Kamis, 11 September 2008

Hmm Rindu Ramadhan? ( Bagian 2 )


Masihkah Kita Rindu Pada Ramadhan?
Bagian Ke-2


Marhaban Yaa... Ramadhan... Bulan ramadhan 10 hari pertama sudah terlampaui. Kata pak Ustadz, "Sepertiga jalan sudah kita lewati, 10 hari masa dibukanya pintu rahmat Allah selebar-lebarnya bagi siapa saja yang mau memasukinya". Sekarang menapaki 10 hari kedua dalam ramadhan, yang kata pak Ustadz lagi, "10 hari masa dibukanya pintu maghfirah". Seperti tulisan saya di awal ramadhan sebelumnya, bab rindu Ramadhan, di sambungan tulisan (bagian 1 : Agustus ' 08) kali ini pun saya akan coba gambarkan polah tingkah pengejawantahan kerinduan ramadhan yang sering membuat tertawa dalam hati. Tapi sebelumnya saya akan katakan bahwa yang saya tulis ini adalah se-mata-mata apa yang saya rasakan, lihat dan dengar, apabila ada kesinisan dari para pembaca yang budiman saya mohon jangan terlalu dimasukkan ke dalam hati. Silahkan simak beberapa bentuk kerinduan-kerinduan pada bulan Ramadhan di bawah ini,

Kerinduan istri pada Ramadhan
Rindu pada THR yang diterima suami dari tempat kerjanya
Rindu pada paket sembako dari perusahaan suami
Rindu pada SHU yang diterima suami dari koperasi simpan pinjam karyawan
Rindu pada banyaknya potongan harga di toko pakaian

Kerinduan-kerinduan istri pada ramadhan di atas tadi adalah kerinduan dari istri-istri kebanyakan, tidak termasuk di dalamnya istri-istri manajer atau direktur yang hampir pasti tidak akan menemui banyak perbedaan soal pemenuhan kebutuhan dapur antara hari-hari biasa atau hari-hari ramadhan khususnya menjelang idul fitri. Di dalam aktifitas belanja keseharian mereka cukup hanya dengan menggesek sana sini dengan kartu kredit. Ketika ramadhan mereka disibukkan dengan menata berjubel parsel dari kolega sang suami dan mendata parsel-parsel yang juga harus mereka kirim. Tapi apakah kerinduan-kerinduan di atas masih bisa dirasakan oleh istri-istri kebanyakan saat sekarang ini? Jawabannya mungkin sudah jarang. Karena THR atau SHU suami yang diterima, seringkali akan langsung habis untuk melunasi tunggakan hutang atau melunasi iuran pendidikan anak-anak yang mahalnya kian tak masuk akal. Atau juga tidak akan berarti atau bernilai apa-apa karena bahan kebutuhan pokok di pasar harganya akan melangit jika mendekati lebaran.

Kerinduan beberapa profesi pada Ramadhan dari sudut pandang minor
Manifestasi kerinduan-kerinduan pada bulan ramadhan dimana mereka justru rindu pada kesempatan menangguk "kemapanan" dan keuntungan materisebesar-besarnya dengan pemanfaatan profesinya secara maksimal tanpa memperhatikan lagi aturan-aturan yang telah ditetapkan dalam islam ataupun dalam norma masyarakat.

Kerinduan juragan sembako pada Ramadhan
Rindu pada menjadi orang paling penting se-kecamatan melebihi bapak camat itu sendiri
Rindu pada meraup keuntungan dari sembako yang sudah dari 2 bulan sebelumnya ia timbun Rindu pada keuntungan yang berlipat-lipat dari penjualan barang yang hampir kadaluwarsa Rindu pada saat enaknya bisa mengutak-utik harga barang dengan sesuka hati

Kerinduan juragan toko emas pada Ramadhan
Rindu pada pemandangan stok perhiasan di etalase selalu berkurang saban hari karena laris manis diserbu ibu-ibu penggila harga diri
Rindu pada mekanisme pasar perhiasan emas yang edan, menjual dengan harga tinggi membeli dengan harga sangat murah dari konsumen
Rindu pada banyak orang yang terbodohi karena ketidak tahuan soal simpang-siurnya prosentase karat emas pada perhiasan yang akan mereka beli

Kerinduan copet pasar, copet angkutan dan copet terminal pada Ramadhan
Rindu pada begitu mudahnya kerja mereka karena banyak sekali masyarakat yang lengah karena tebius oleh aura pasar yang berubah seolah menjadi surga
Rindu pada keadaan betapa manusia seakan berbondong-bondong menyerahkan diri pada mereka
Rindu pada sambutan meriah para lonte-lonte di malam hari ketika ia kunjungi setelah siang tadi berhasil menggasak puluhan dompet dengan isi penuh duit THR
Rindu pada panen raya maksiat tahunan yang justru terjadi pada ramadhan

Kerinduan travel agent pada Ramadhan
Rindu pada wajah memelas dari para penumpang yang laksana pengemis, meminta-minta meski hanya satu kursi agar bisa mudik
Rindu pada keuntungan yang berlipat-lipat dari naiknya harga tiket yang sudah mereka terapkan jauh hari sebelum penetapan tuslah resmi dari pemerintah
Rindu pada keadaan seperti panen karamba, penumpang tidak perlu lagi harus dijemput seperti hari-hari biasa
Rindu pada kata-kata, "Silahkan kalau mau ya harga tiketnya segitu, kalau enggak ya silahkan nggak usah mudik"

Kerinduan manajer pusat perbelanjaan pada Ramadhan
Rindu pada melangitnya keuntungan karena uforia belanja masyarakat menjelang lebaran
Rindu pada melihat kebodohan orang-orang yang datang ke pusat perbelanjaannya, yang seolah-olah ada pembagian sembako gratis
Rindu pada berhasilnya sistem mekanisme obral yang ia buat, sehingga masyarakat yakin bahwa barang-barang yang ada di pusat perbelanjaannya adalah yang paling murah
Rindu pada bonus penjualan yang jumlahnya jauh lebih besar dari para sales promotion yang pekerjaannya jauh lebih melelahkan

Kerinduan politisi culas pada Ramadhan
Rindu pada parcel-parcel yang datang tiada henti, kamuflase sogokan dari partisan Rindu pada amplop-amplop ucapan selamat menunaikan ibadah puasa dan selamat lebaran yang di dalamnya juga berisi setumpuk dolar
Rindu pada pesangon tambahan dari kegiatan safari ramadhan
Rindu pada pesangon dari para pengusaha yang mengundangnya pada acara buka bersama

Kerinduan selebreti maruk pada Ramadhan
Rindu pada banjirnya tawaran mengisi paket acara ramadhan di stasiun televisi, yang manfaatnya bagi umat penuh dengan tanda tanya
Rindu pada padatnya jadwal shooting dari mulai dini hari, pagi hari, siang hari sampai malam hari lagi, sehingga untuk dapat menopang energi yang terkuras "terpaksa" mereka harus mensuplai "obat-obatan"
Rindu pada diberitakan dia sebagai selebreti santun dan beriman pada acara infotainment, yang pada dasarnya acara tersebut jauh dari manfaat

Kerinduan produser rumah produksi pada Ramadhan
Rindu pada rating puncak dari sinetron ramadhan produksinya yang seringkali justru memperdengarkan dan memperlihatkan hal-hal yang tidak sepatutnya
Rindu pada rating puncak dari sinetron ramadhan produksinya yang beberapa bintangnya pada kenyataannya justru berpenampilan dan berperilaku tidak sesuai dengan norma islam
Rindu pada rating dari puncak paket acara ramadahan atau sinetron ramadhan produksinya yang justru ditimpali dengan kuis-kuis yang bernafaskan judi
Rindu pada sinetron produksinya bisa menghasilkan banyak pemasang iklan, yang terkadang materi iklannya membuat gerah para bapak-bapak karyawan pabrik
Rindu pada proses produksi yang memaksa harus stripping, memeras tenaga para kru yang walhasil banyak dari mereka akhirnya tidak berpuasa

Kesimpulan
Betapa sebenarnya di sebagian besar masyarakat kita baik secara orang per orang maupun secara jamak sudah begitu salah kaprah dalam menyambut ataupun mengisi ramadhan. Dengan kegiatan-kegiatan ( kalau tidak mau disebut adat) yang lebih dekat bahkan sudah masuk di dalam area maksiat. Saya sangat yakin masih banyak lagi hal-hal lain sebagai bentuk manifestasi dari "kerinduan pada ramadhan" yang tidak atau belum saya tuliskan di sini. Pertanyaannya adalah bukanlah mengapa atau siapa, tetapi, "Apakah kita akan terus membiarkan hal-hal yang menodai kesucian ramadhan tersebut akan tetap berlanjut ?". Apakah tindakan pemimpin negeri ini, para aparat negara sebagai penjaga republik dan tokoh-tokoh agama terkemuka yang memiliki ribuan bahkan jutaan massa terhadap ikhwal porak-porandanya kaidah akhlaq tersebut?. Bagaimana negeri ini akan mendapatkan rahmat, maghfirah ataupun hidayah dari bulan suci ini ?, apabila nyata-nyata terjadi penyimpangan di depan hidung negeri ini sendiri. Sekali lagi saya tegaskan masih sangat banyak bentuk-bentuk ketidak lurusan dalam menyambut atau mengisi bulan suci ini. Semoga keluarga, teman, kerabat dan sahabat kita tidak masuk dalam golongan manusia-manusia bengkok yang saya tuliskan di atas. Amien Ya Rabbal 'Alamien.

Selasa, 02 September 2008

Tragedi Jambu Bangkok


Tragedi Jambu Bangkok

Seperti biasa suasana malam sehabis berbuka di kos-kosan E1 tampak riuh. Kos-kosan putra dengan 18 kamar dan berpenghini sekitar 30an mahasiswa, sebuah lingkungan kos yang lumayan besar. Dengan bentuk kotak seperti sebuah benteng lengkap dengan gerbangnya, di tengah-tengah halaman yang cukup lebar kalau hanya buat sebuah lapangan badminton. Setelah berbuka dan sholat maghrib sambil menunggu menunggu isya', penghuni kos yang masih tersisa karena sebagian sudah pulang ke daerah masing-masing di hari ke 22 ramadhan di tahun tersebut, mereka bersantai membiarkan usus di dalam perut memproses makanan berbuka yang sebagian besar berupa nasi bungkus. Beberapa ada yang merokok sambil ngobrol, beberapa lagi ada yang menghabiskan teh sambil mendengarkan siaran radio favorit. Dua atau tiga anak tampak sibuk di tempat cucian membersihkan ajang bekas makanan. Di beberapa kamar terdengar pula alunan ayat-ayat suci yang dibaca beberapa diantaranya masih setengah terbata-bata. Azdan isya' masih sekitar 20 menit lagi, sesekali terdengar tawa dari obrolan kelompok kecil di tengah halaman yang sengaja ditempatkan 2 buah bangku panjang yang saling berhadap-hadapan sebagai tempat mengobrol.
Tetapi ada yang aneh pada malam itu, ya aneh, karena salah satu kamar di bagian depan dekat pintu gerbang masih tampak sedikit terbuka pintunya. Kamar Nuril, mahasiswa angkatan anyar yang berasal dari suatu daerah di Kalimantan. Biasanya setiap kamar akan selalu terbuka pintunya kecuali jika penghuninya sedang malaksanakan sholat atau tidur. Tapi kali ini tidak pada kamar si Nuril, padahal maghrib sudah berlalu lebih dari seperempat jam yang lalu, mungkinkan dia masih tertidur? Kelompok kecil di tangah lapangan merasa heran, dan mulai saling bertanya, kemana si Nuril atau masih tertidurkah Nuril. Karena sekitar jam 5-an tadi memang Nuril sempat bicara pada salah satu diantara mereka, bahwa ia mau istirahat sambil tiduran karena seharian tadi kegiatan kampus cukup melelahkan.
"Hai Lay...coba kamu lihat, tuh Nuril apa ketiduran?, kasihan wong waktu buka udah dari tadi!", Toro salah satu dari kelompok kecil di tangah halaman berteriak menyuruh Lay, mahasiswa baru dari Medan yang kamarnya bersebelahan dengan Nuril, untuk melihat keadaan Nuril.
Lay yang nampak sedang manggut-manggut mendengarkan lagu dari radio beranjak dari duduknya di depan kamar sambil berkata, "Oke bang..", dengan logat bataknya yang kental.
Beberapa saat setelah Lay masuk kamar Nuril, tiba-tiba terdengar dia berteriak dan memanggil Toro,"Alaah Maak....apa pula ini, bang Toro kemari kau...lihat ini, Nuril sekarat!".
Sontak kelompok kecil di tengah halaman kaget, "sekarat!", sebuah kata yang menakutkan tentu saja. Walau terdengar dari mulut Lay sekalipun yang sudah dikenal sering berlebihan dalam menanggapi hal-hal yang ia lihat. Kelompok kecil itu pun bubar, mereka berlari menuju kamar Nuril, diikuti oleh anak-anak yang lain yang tidak berada dalam kelompok tersebut. Tampak berdesakan di pintu kamar Nuril, beberapa berhasil masuk kamar dan yang beberapa lagi di luar karena jelas kamar Nuril yang hanya berukuran 3 kali 4 meter tak mungkin dapat menampung semua orang. Yang di luar tampak melongok-longok di antara sesama penghuni kos-kosan yang berjejalan di pintu kamar. Enam orang berada di dalam kamar termasuk Lay dan Toro. Meraka benar-benar terkejut, tidak tahu apa yang sesungguhnya terjadi.
Di hadapan mereka Nuril tergeletak tampak aneh di atas dipan, dengan kain sarung dan kaos yang setengahnya tergulung sampai ke bagian dada. Tangannya masih mengenggam sesuatu yang sepertinya adalah buah. Ya, buah, buah jambu yang berukuran cukup besar, jambu bangkok!. Wajah Nuril kelihatan aneh, matanya tampak merem melek kadang membelalak. Mulutnya kadang setengah terbuka dengan lidah di julur-julurkan keluar. Nafasnya ngos-ngosan, berbarengan dengan perutnya yang sedikit buncit tampak naik turun seperti balon gas yang sedang dipompa. Jika dipadukan keadaan tersebut dengan bentuk fisik keseluruhan Nuril dengan kulit gelap dan rambut keriting awut-awutan maka akan tampak seperti gelandangan yang baru saja keracunan karena minum jus kemasan yang sudah kadaluwarsa yang ia temukan di tempat sampah depan mini market. Di atas meja belajar kecil samping tempat tidur terlihat berserakan sisa-sisa buah jambu banggkok yang lain dan sebuah cangkir seng bermotif hijau putih yang sudah kosong. Di permukaan meja ada tumpahan-tumpahan air putih.
"Haduhh...astaghfirullaaahhh...haduhhh...astaghfirullaahh...", terdengar suara lirih yang lebih mirip rintihan keluar dari mulut Nuril. Kenapa sebenarnya ini si Nuril?, keracunankah dia atau kesambet danyang yang menjaga pohon jambu bangkok yang ia makan?.
Toro yang berada paling dekat dengan Nuril bersebelahan dengan Lay bertanya pada sosok yang terkulai di hadapannya, "Kenapa kamu Ril?, kenapa kamu?, kamu masih sadar tho?, masih dengar suaraku tho?"
Yang ditanya terlihat meringis, matanya sebentar terpejam, dengan lirih ia menjawab,"Masih mas....haduhhhh..ampuun".
Toro dan Lay maju serentak, membetulkan posisi tubuh Nuril agar setengah duduk bersandar di bantal yang diletakkan setengah berdiri di sandaran dipan. Lay mengambil buku dari rak buku, kemudian mengibas-kibaskan ke wajah Nuril agar tidak sumpek.
"Tolong ambilkan minyak angin di kamarku, di rak obat sebelah cermin, cepat!", Toro menyuruh anak yang berada di luar kamar untuk mengambil minyak angin di kamarnya. Tak beberapa lama setelah mendapatkan minyak angin yang diminta, Toro mengoleskan minyak angin ke bagian dada dan perut Nuril.
Wajah Nuril sudah terlihat sedikit demi sedikit normal kembali, meskipun ia masih nampak kesusahan untuk bernafas. Tapi bila diamati wajah Nuril yang "sekarat" tadi dengan yang normal sebenarnya tidak begitu jauh berbeda. Karena wajah Nuril memang selalu terlihat seperti orang meringis menahan atau mendorong sesuatu. Seperti wajah orang di pagi hari ketika di toilet. Garis mulut yang lumayan lebar, bibir yang lumayan tebal dan garis alis mata yang seperti orang yang sedang heran.
Setelah keadaan benar-benar kembali normal, Nurilpun akhirnya menceritakan ikhwal apa yang sebenarnya ia alami. Pada kultum subuh tadi pagi di masjid kampung tempat kos-kosan itu berdiri, ia mendengarkan ceramah yang membahas kebiasaan Rasulallah ketika berbuka. Di kultum subuh tadi dikatakan bahwa kebiasaan Rasulallah ketika berbuka adalah dengan tiga buah kurma dan segelas air putih. Sebagaimana diketahui bahwa buah yang paling digemari oleh Rasulallah adalah buah kurma. Setelah mendengar itu, Nuril pun ingin pula mendapat pahala sunnah dengan meniru apa yang Rasulallah lakukan. Tetapi seperti juga kebiasaan ibadah qurban di jaman Rasulallah yaitu dengan hewan qurban berupa unta, namun di Indonesia boleh digantikan dengan sapi atau lembu, karena habitat hewan ternak di Indonesia adalah 2 hewan tadi, bukannya onta seperti di jazirah arab. Maka Nurilpun mereka-reka sendiri soal bab berbuka puasa tadi, dia akan melakukan buka hari itu dengan hidangan layaknya Rasulallah. Tetapi dikarenakan uang kiriman belum datang dan harga kurma lumayan mahal, maka ia memutuskan menggantinya dengan buah yang lain, yang mudah ditemui, layaknya lembu dan sapi pada ibadah qurban. Dan buah pengganti kurma itu adalah jambu bangkok, selain dia sangat sukai juga mudah didapat karena tinggal memetik di halaman belakang rumah ibu kos, yang memang di persilahkan oleh ibu kos untuk memetik bagi semua penghuni kos-kosan. Dan karena buah kurma yang disantap Rasulallah adalah tiga biji, maka ia pun memetik tiga biji buah jambu bangkok. Tiga buah jambu bangkok yang besarnya hampir sepertiga buah kelapa itu ia bersihkan dengan air kran dan dibawanya ke kamar. Setelah adzan maghrib terdengar sebagai tanda waktu berbuka maka Nuril pun menyegerakan untuk berbuka dengan mengawalinya meminum 3 teguk air, dilanjutkan dengan menyantap buah jambu bangkok yang sudah dipetiknya tadi siang. Dan kejadian selanjutnya pasti sudah dapat ditebak, dia tersedak-sedak, perutnya kuwalahan menampung buah-buah jambu bangkok yang besarnya hampir sepertiga buah kelapa dalam waktu bersamaan. Sampai akhirnya jambu bangkok yang terakhir tidak sanggup lagi ia habiskan, Nurilpun kewalahan, perutnya langsung membesar dan diapun terkapar di atas dipan. Huwarakadah...Nuriiil..Nuriiil.

Kesimpulan
Aturan-aturan dalam Islam itu mudah, karena Allah tidak ingin memberatkan umatNya dalam beribadah kepadaNya. Namun jangan sekali-kali menganggap mudah bahkan meremehkan akan aturan Islam, karena bila tidak mengetahui duduk persoalan dan tata cara yang benar maka yang ada hanya akan membuat celaka, di dunia atau bahkan di akhirat. Na'uzdubillahi min dzaliq.

Cerita di atas terinspirasi dari ceramah K.H. Zainuddin MZ

Senin, 01 September 2008

Tahajjud




Prolog
Kita semua ingin kemudahan. Kita semua ingin ketenangan hidup. Berdo'alah sebelum matahari sepenggalahan, melangkahlah menyisiri jembatan-jembatan rizki. Bangunlah di sepertiga malam dan berzikirlah. Setelah semua kita tunaikan, maka ikhlaskanlah. Karena Sang Pemilik Surga telah tersenyum.

Tahajjud
oleh Tazz27

Terbangun ia mengalahkan sang penggugah pagi
Dibasuhnya dengan sucinya air maknawi
Selembar sajaddah lawas ia gelar
Dan khusuk ia bercengkrama dengan Sang Pemilik Semesta

Bersimpuh, ruku' dan tegak berdiri
Seperti putaran kehidupan yang terakhir ditutup salam
Dari ujung kelopak tampak seperti embun
Dan menangislah ia sebelum fajar

Istana kecilnya laksana bersinar
Dari atas langit tampak bak kelompok kunang-kunang
Selaksa bintang-gemintang yang berebut mencuri hati
Bagai mercusuar pasukan malaikat sepertiga malam

"Lihat-lihat itu, dia mahlukKu yang terhormat"
"Lihat-lihat itu, dia mahlukKu yang bisa melebihi kepatuhanmu"
"Lihat-lihat itu, dia mahlukKu yang membuang buaian mimpi"
"Lihat-lihat itu, dai mahlukKu yang sebenarnya mengakui ketuhananKU"
Gema Sang Khaliq pada seantero malaikat yang bertasbikh

Penjaga surga telah siap menyambutnya
Satu kamar istimewa ia tata untuk si pesujud malam
Aral melintang dunia sekoyong-sekoyong tumbang
Seperti diatas permadani terbang ia melenggang

Akhh....tidak kah kita rindu..?
Rindu pada suara lirih dari pita suara yang serak oleh tangisan
Rindu melepaskan berton-ton baja kekalutan di atas pundak
Rindu termuliakan di kala siang, hingga jingga menjemput malam

Harum wangi bau tanah kuburmu
Malaikat pembawa godam menyalakan pelita dalam hangat tidur panjangmu
Berubah mereka menjadi mahluk penuh cinta
Membiarkan lelapmu sampai sangkakala membahana

Minggu, 31 Agustus 2008

Hmm Rindu Ramadhan? ( Bagian 1 )


Masihkah Kita Rindu Pada Ramadhan?

Marhaban Yaa... Ramadhan...
Bulan suci tinggal esok hari. Suatu bulan yang amat spesial bagi sebagian besar umat muslim. Bulan dimana kedatangannya selalu disambut gegap gempita bahkan satu bulan sebelum bulan tersebut datang. Hampir semua lini kehidupan di negeri ini seperti beranjak dari tempat duduk. Saya tidak tahu apakah hal seperti ini juga terjadi di negara-negara lain yang bermayoritas masyarakat muslim. Tapi yang pasti fenomena ramadhan di Indonesia sangat menggelitik kepala saya. Senyuman getir atau bahkan gelengan kepala rasa kasihan bila melihat gegap gempita nuansa songsong bulan suci. Tapi kadang yang justru muncul perasaan lucu, apabila otak kiri saya yang mencerna informasi yang diterima dari mata dan telinga. Kata-kata ustad ataupun kyai yang sering saya dengar bahwa bulan Ramadhan adalah bulan yang seharusnya dirindukan kaum muslim sering saya pertanyakan. Dimana sebenarnya letak kerinduan dari mereka yang menyebut dirinya muslim? Polah tingkah pengejawantahan kerinduan ramadhan yang sering membuat tertawa dalam hati itupun menggugah dri saya untuk menuliskannya dalam edisi tulisan kali ini. Tapi sebelumnya saya akan katakan bahwa yang saya tulis ini adalah se-mata-mata apa yang saya rasakan, lihat dan dengar, apabila ada kesinisan dari para pembaca yang budiman saya mohon jangan terlalu dimasukkan ke dalam hati. Silahkan simak beberapa bentuk kerinduan-kerinduan pada bulan Ramadhan di bawah ini,

Kerinduan bocah pada Ramadhan
Rindu pada ramainya suasana kampung di malam hari dan waktu sahur hingga sesudah subuh.
Rindu pada es kolak pisang dengan campuran buah kolang-kaling dan potongan tapai serta butiran cengkih, buatan ibunya di waktu buka.
Rindu pada ramainya mushola yang hanya pada bulan Ramadhan penuh sesak.
Rindu pada makanan gratis hidangan berbuka di mushola.
Rindu pada uang lima ribuan yang dibagi-bagi oleh Pak Berlin setelah tarawih ketika ia ketiban jatah jadi imam.
Rindu pada tontonan kembang api dan gemuruh mercon di kampung.
Rindu pada kegiatan membangunkan sahur keliling kampung sambil tetabuhan riuh gaduh.
Rindu pada begadang sampai pagi, karena hanya pada bulan puasa mereka mendapatkan hak orang dewasa tersebut.

Kerinduan-kerinduan seorang bocah pada bulan Ramadhan di atas mungkin di beberapa kota besar sudah jarang atau bahkan tidak sama sekali bisa kita temui lagi saat ini. Sebuah kerinduan yang mungkin dianggap sangat picisan bagi yang dinamakan peradaban, peradaban modern kata mereka. Peradaban PlayStation, peradaban Mall, peradaban Skater dan peradaban-peradaban non pribumi lainnya.

Kerinduan bujang pada Ramadhan
Rindu pada janjian taraweh bareng dengan sang pujaan hati.
Rindu pada janjian jalan-jalan pagi setelah sholat subuh dengan pujaan hati.
Rindu pada teriakan-teriakan membangunkan sahur lewat corong speaker mushola.
Rindu pada bersiut-siut nakal pada gadis-gadis ketika "ngabuburit"
Rindu pada terlihat sebagai pemuda unggulan pada kepanitiaan ramadhan di mushola kampung.
Rindu pada mencuri-curi kesempatan membatalkan puasa di warung sate di siang bolong.

Sekali lagi kerinduan-kerinduan bujang pada bulan Ramadhan di atas mungkin sudah tidak kita temui. Dan sekali lagi sebuah kerinduan yang mungkin dianggap sangat picisan bagi "peradaban modern". Peradaban Night Club, peradaban Cafe, peradaban Pool, peradaban Discotique, peradaban Night Race, peradaban Mobil & Motor Modifikasi, dan peradaban-peradaban non pribumi lain.

Kerinduan gadis pada Ramadhan
Rindu pada tampil lebih cantik dengan jilbab barunya.
Rindu pada senyuman-senyuman nakal sang bujang saat akan taraweh.
Rindu pada sanjungan atas hidangan yang dimasak untuk acara buka bersama di mushola.
Rindu pada panggilan-panggilan rasa sayang di waktu sahur dari pengeras suara mushola.
Rindu pada pujian dari orang tua sang pujaan sebagai seorang gadis yang tambah ayu, ketika menghantar hidangan berbuka kiriman sang ibu.
Rindu pada siutan-siutan nakal para bujang ketika "ngabuburit"
Rindu pada bertingkah memanasi hati sang adik dengan minum es campur di siang hari ketika datang bulan datang.

Dan sekali lagi, kerinduan-kerinduan gadis pada bulan Ramadhan di atas mungkin sudah tidak kita temui lagi. Sebuah kerinduan yang mungkin dianggap sangat picisan bagi "peradaban modern". Peradaban Dugem, peradaban Party girl, peradaban Tangtop, peradaban Mani-padi, peradaban Shopping, peradaban Ladys Night, dan peradaban-peradaban non pribumi lainnya.

Kerinduan yang lain akan saya tulis lagi di hari kedepan, yang mungkin bisa dijadikan bacaan ringan sebagai pengamuflasi rasa haus dan lapar di siang hari pada bulan puasa yang biasanya panas. Dan tentu saja...Bersambung :-D

Jumat, 22 Agustus 2008

Mistery Of An Idea vol.1 capture. 2

MEKANISME IDE
bagian 2

Oleh Tazz27

Prolog
Sebagai lanjutan dari tulisan sebelumnya, tentang cerita mengenai ide yang menurut saya sangat menggelitik dan membuat saya berfikir tentang rahasia dari sebuah ide.

4. Pemuda Idaman

Beberapa tahun yang lalu, hasrat dalam diri saya untuk menulis sesuatu begitu menggebu. Entah mengapa waktu itu keinginan menulis begitu besar. Tapi biasanya keinginan tersebut muncul di saat waktu-waktu luang saya sebagai seorang freelancer desainer grafis. Ketika itu saya berkeinginan besar menulis sesuatu yang bisa menjadi inspirasi bagi pembaca tulisan saya nanti. Meskipun saya belum tahu, akan jadi seperti apa tulisan saya nanti, apakah sebuah cerpen atau bahkan sebuah novel. Ide cerita apa yang akan saya tulis juga belum saya temukan, sampai pada akhirnya karena rasa kangen terhadap seorang sahabat yang sudah saya anggap sebagai adik yang sekarang dia tinggal nun jauh diseberang pulau, ide itupun muncul. Saya ingin mengangkat cerita dari kisah hidup sahabat saya tersebut yang saya anggap amat sangat menarik. Sebuah cerita ideal yang mungkin sangat biasa tapi saya yakin dari 1000 pemuda yang bisa kita temukan mungkin hanya 1 atau 2 yang bisa menjalani kehidupan seperi sahabat saya tadi. Sebuah cerita hidup seorang remaja kota besar yang hidup di sebuah perkampungan di antara gang-gang sempit dan jalan tikus yang berbenteng bangunan-bangunan besar. Kisah hidup sosok pemuda yang hidup mendampingi sang ibu tercinta yang begitu ia hormati, yang sudah renta tapi sangat bersahaja dan penuh falsafah hidup seorang muslimah jawa tulen. Seorang pemuda ketika si usia sekolah menengah atas, di antara remaja-remaja lainnya yang bisa berangkat ke sekolah dengan mobil antar jemput, sepeda motor atau angkutan perkotaan, tetapi ia dihadapkan pada satu kenyataan, dia harus pergi dan pulang sekolah dengan berjalan kaki sejauh 8 kilometer setiap hari. Diantara teman-temannya yang ketika waktu istirahat bersantai ria dengan softdrink, makanan ringan bahkan merokok, dia hanya dapat melihat keriangan itu, bahkan dia menjalaninya sembari berpuasa. Benar-benar potret hidup yang amat sangat langka kita jumpai. Belum lagi kisahnya setelah lulus sekolah menengah, sebuah kepastian bahwa ia tak mungkin meneruskan ke jenjang yang lebih tinggi. Tapi keadaan tersebut apakah menyurutkan keinginannya untuk bisa mengenyam manisnya bangku kuliah?, sama sekali tidak. Romantika hidup yang demikian dimana sebagian orang tentu sudah pasrah, tapi bagi sahabat saya penjalanan hidup yang demikian justru semakin menantang, menyulut bara pertahanan hidup yang menimbulkan energi yang meluap-luap seiring ayunan langkah-langkah lebar dari sahabat saya ini. Dia memutuskan untuk bekerja. Dan seperti sudah tertoreh dalam sebuah skenario besar. Bersamaan hasratnya untuk dapat bekerja, dan ketertarikannya pada dunia seni rupa, waktu itu saya bersama seorang teman membuka sebuah usaha jasa advertensi baru. Dan sahabat saya tadi kami rekrut untuk dapat membantu kami sebagai office boy merangkap kurir. Dan seiring perjalan waktu dia belajar cara pengoperasian komputer dan sofware desain grafis hingga pada akhirnya dia bukan lagi sebagai office boy atau kurir tetapi menjadi seorang setter dan tenaga layuout. Selama hampir 2 tahun dia bekerja, upah tiap bulan yang ia terima, ia kumpulkan untuk memenuhi keinginannya menambah ilmu dan lebih mematangkan kemampuan sebagai seorang desainer grafis. Keinginannya untuk mengenyam bangku kuliah pun bisa ia penuhi. Singkat cerita tiga tahun yang penuh ramantika, suka, duka, cinta, keringat, do’a terkadang air mata ia lewati. Dan sahabat saya itu pun mendapatkan apa yang sudah dijanjikan. Di berhasil lulus dengan prestasi sangat memuaskan dan sekarang ia sudah sedikit banyak menikmati manisnya peribahasa berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ketepian. Menjadi seorang desainer grafis yang cukup mapan, di sebuah perusahaan group penerbitan ternama di negeri ini. Namanyapun sudah cukup kondang bagi masyarakat lokal dimana ia tinggal sekarang. Sebuah kisah keberhasilan dari buah kesabaran dan kerja keras yang saya anggap sangat inspiratif untuk di ceritakan. Dalam cerita tersebut memanglah bukan ending kesuksesan yang mungkin bagi kebanyakan orang harus terukur dari berapa banyak ujud materi yang ia miliki, berapa ratus bahkan ribu karyawan yang bekerja di dalam perusahaannya, tetapi sebuah cerita dari sudut pandang lain dari arti kesuksesan itu sendiri. Kesuksesan dari sudut pandang orang-orang yang berpola pikir sederhana, termasuk saya. Dimana keksuksesan itu antara lain adalah, dapat melanggengkan senyuman orang tua yang sangat dikasihi dan di hormati. Mewujudkan keinginan orang tua agar anaknya dapat berprestasi dan meringankan beban hidupnya. Walaupun saya amat sangat yakin masih banyak impian-impian yang ingin diraih oleh sahabat saya tersebut. Yang jelas kisah hidup sahabat saya yang satu ini sangat menggelitik otak kanan saya untuk menuangkannya dalam bentuk tulisan, sebagai sosok pemuda ideal, pemuda idaman setiap orang tua yang berpengharapan pada anak-anak mereka, meski sampai sekarang tulisan saya tersebut belum juga terselesaikan.
Selang beberapa tahun kemudian, sekitar 4 tahun dari terlintasnya ide saya untuk menulis kisah sahabat saya tersebut. Alhamdulillah saya dapat melakukan komunikasi lebih mudah dengan sahabat saya tersebut melalui media internet. Kami berdua sangat bahagia karena meskipun hanya lewat saling mengirimkan tulisan kata-kata tetapi kami dapat saling memberi kabar selayaknya bertatap muka. (Semoga yang menemukan teknologi-teknologi tersebut mendapat hidayah dan inayah).
Dalam percakan kami berdua, sahabat saya tersebut mengungkapakan betapa ia ingin agar karya-karya karikatur yang telah ia buat selama ini dapat dijadikan bundling buku, yang mungkin dapat untuk menambah referensi para calon ataupun paraktisi karikatur. Dia mengatakan bahwa sebelumnya cerita tentang dirinyapun sudah pernah diangkat, atau dimasukkan dalam penggalan sebuah novel karya teman sekuliahnya dahulu. Huwarakadah, menarik bukan? Satu lagi misteri ide berlaku disini, yaiatu ide saya untuk mengangkat cerita sahabat saya tersebut sama dengan ketertarikan teman dari sahabat saya terhadap kisah hidup sahabat saya tersebut. Dalam hal ini sebelumya saya tidak pernah mengungkapakan pada sahabat saya tersebut bahwa saya ingin mengambil kisahnya menjadi sebuah tulisan. Dan saya pun tidak mengenal teman kuliah dari sahabat saya tersebut. Sekali lagi bagi saya hal itu sangat menarik untuk di kelupas.

5. Beriklan di Perempatan Lampu Merah
Beberapa tahun yang lalu sekitar tahun 94 -95, ketika saya masih menjadi seorang mahasiswa yunior di sebuah Institusi pendidikan seni negeri di Yogyakarta. Sebuah institut yang sangat ternama dan di idamkan oleh setiap calon mahasiswa yang berkeinginan menjadi seniman ternama atau praktisi seni terapan yang handal. Kala itu pada sebuah kesempatan saya sedang berada di tempat kos teman satu jurusan. Di dalam kamar kos teman saya tersebut, yang meskipun ukurannya tak begitu luas, dengan keadaan kamar yang sangat berantakan cenderung kotor. Sesekali apabila ada hembusan angin dari luar masuk kedalam maka akan tercium bau pesing yang berasal dari luar pojok bagian depan kamar teman saya tersebut. Karena di luar pojok bagian depan kamar kos teman saya itulah ia sering membuang hajat kecil sembarangan, dikarenakan ia seorang yang amat sangat penakut, sehingga untuk pergi melangkah ke kamar mandi di lokasi kos-kosan pun ia tidak berani. Meski saya dan beberapa teman saya yang lain sering komplain akan kebiasaan teman kami tersebut, tapi tetap kalah dengan imaginasi horor di dalam kepalanya tentang bayi berwajah orang tua yang muncul dari dalam closet kamar mandi. Tapi yang aneh meskipun dengan keadaan yang demikian kami berdua dan terkadang dengan beberapa teman kami yang lain sangat betah berada di kamar busuk tersebut. Kamar tersebut sebenarnya lebih kami fungsikan sebagai studio atau bahkan basecamp ketimbang kamar tidur. Di situ kami mengerjakan tugas-tugas harian dari dosen, di mana di semester-semester awal tugas-tugas tersebut teramat sangat banyak. Disamping sebagai studio tentu saja kamar tersebut juga sebagai basecamp tempat ngobrol “ngalor-ngidul”, mencemooh teman lain, menghayal bersama bisa tidur dengan mahasiswi tetangga kampus yang seksi yang tadi siang kami lihat atau sekedar bercerita sesuatu yang super jorok, maklumlah kami hidup di komunitas edan sok "nyeniman", dimana berisi orang-orang senewen tapi orang bilang kreatif. Waktu itu kami berbincang tentang mungkin tidak untuk bisa bekerja sembari kuliah untuk menambah uang bulanan yang sering ludes untuk membeli peralatan sebagai pendukung dalam pengerjaan tugas-tugas kuliah. Satu idepun tercetus di kepala dan saya utarakan pada teman saya tersebut. Bahwa karena kita masih mahasiswa yunior, dengan seabrek tugas-tugas kuliah tentu kita tidak bisa bekerja dengan waktu penuh. Bagaimana kalau kita menjual ide-ide saja kepada perusahaan yang membutuhkan inovasi dalam mengkampanyekan produk mereka. Ketika itu saya tercetus ide untuk mengkampanyekan sebuah produk minuman bersoda di perempatan-perempatan lampu merah. Dengan cara membuat stand kecil di atas trotoar di lokasi perempatan. Menempatkan 1 atau dua orang yang memakai kostum figur ataupun sebuah maskot, dengan bentuk boneka besar berupa botol atau kaleng minuman bersoda tersebut, mereka akan menari nari untuk menarik perhatian pengguna jalan ketika lampu lalu lintas menyala merah. Beberapa perempuan muda yang seksi dengan berpayung siap memberikan sample minuman bersoda dingin secara gratis kepada para pengguna jalan. Dan tentu saja kita pasang sound sistem untuk menambah meriah suasana. Selain itu di atas aspal perempatan, kita akan beri gambar logo dari minuman bersoda tersebut dengan ukuran super besar. Masih dalam rangkaian kampanye produk yang sama kita akan minta armada mobil APV yang mengangkut tiap-tiap team perempatan tadi untuk di cat airbrush dengan visualisasi produk-produk tadi dan bila perlu dibuatkan replika botol atau kaleng minuman dengan ukuran raksasa, dan kendaraan tadi kita minta untuk berkeliling kota sebagai iklan berjalan. Sejatinya ide tadi boleh dikatakan ide brilian. Apalagi di tahun tersebut, iklan-iklan luar ruang sedikit banyak mengalami kelesuan sebagai akibat mulai maraknya stasiun-stasiun televisi swasta yang diikuti oleh berbondong-bondongnya perusahaan ingin memasang iklan produknya lewat media televisi. Di samping itu juga karena promosi luar ruang yang ada sangat monoton cenderung membosankan, dan yang paling sering digunakan hanya media baliho. Tetapi karena ide tersebut terungkap dalam sebuah kamar kumuh yang sesekali berbau pesing, tercetus dari seorang belia yang pinternya hanya berkhayal dan diutarakan kepada seorang freakin' horror yang tak kalah bodohnya dengan saya waktu itu, maka yang terjadi ide tetap sebatas hanya ide, dan terlupakan beberapa saat setelah buang air keesokan hari dan terbuang percuma bersama mengalirnya limbah manusia ke saluran pembuangan. Nol besar, ubsolutely useless. Tapi apakah ide-ide tersebut benar-benar terjerembab bersamaan dengan mengalirnya limbah ke pembuangan?.
Kira-kira 3 - 4 tahun setelah obrolan ide yang tak terealisir di tahun 94-95 tersebut. Waktu itu saya sudah merasakan dunia kerja yang sesungguhnya (meskipun tidak seperti yang saya harapkan) sebagai desainer grafis merangkap desain produk pada sebuah perusahaan tas. Pada tahun 98-99 mulai banyak bermunculan mobil-mobil minibus atau mobil-mobil kelas AVP dengan body full airbrush gambar berbagai macam produk. Bukan mobil box atau truk box yang biasanya mendistribusikan produk-produk dari kota ke kota. Tetapi mobil yang kebanyakan inventaris perusahaan kepada karyawan dengan jabatan tertentu, yang oleh perusahaan itu sengaja di cat full body airbrush visialisai produk dari perusahaan itu. Yang memang di fungsikan secara tidak langsung sebagai iklan berjalan, sarana remainding product pada masyarakat. Mulai dari produk kosmetik sampai kartu seluler bahkan radio swasta. Banyak juga perushaan kelas menengah yang bergerak di bidang jasa seperti advertensi atau wedding organizer dimana mobil sang empunya perusahaan di cat full airbrush produk jasa mereka. Benar-benar persis seperti apa yang ada di otak saya di tahun 94-95 hanya bedanya mobil-mobil tersebut tidak memasang suatu replika di atas kap mobilnya. Kemudian ide saya beriklan di perempatan, setelah itu pun mulai bermunculan, walau tidak sama persis. Seperti sebagai contoh orang yang berjalan mondar mandir di perempatan sembari mengantungkan papan tipis di dada dan punggung yang di tautkan dengan tali yang merengkuh pundak. Di kedua papan tersebut di berikan poster besar, yang biasanya promosi suatu perhelatan, apakah itu musik, teater atau pameran lukisan. Sedangkan yang berupa team promosi dengan kostum khusus seperti ide saya dahulu, belum lama ini jug sudah saya temui. Sebuah perusahaan kartu seluler mempromosikan di perempatan. Team promosi tersebut saya lihat terdiri dari lima orang, 4 orang berdandan seperti badut dengan warna2 natural masing-masing menenteng semacam drum. Di apit oleh 4 badut tadi, duduk santai diatas sofa warna cerah mencolok, seorang perempuan cantik dengan masih memakai jubah piyama dengan warna khas produk kartu seluler tersebut yang berwarna cerah pula. Sang perempuan molek tadi duduk santai dengan posisi bersandar setengah merebah dengan kaki di atas sofa sambil terus memegang handphone seperti layaknya seorang yang sedang bercakap-cakap melalui media handphone tersebut. Mulutnya bergerak-gerak seolah sedang menggosip sesekali tersenyum dan tertawa, seolah tak terganggu sedikitpun dengan riuhnya tetabuhan dari badut-badut dan bisingnya lalu lalang lalulintas. Mungkinkah teman kuliah saya dulu yang akhirnya merealisasikan ide-ide saya dulu?, ternyata tidak. Pada tahun 98-99 teman saya itu masih menjalani studinya di institusi lama saya. Dan untuk di ketahui, kami berdua mengambil jurusan seni grafis, fakultas seni murni, jadi bukan jurusan desain grafis seperti profesi saya sekarang. Di tahun-tahun itu pula teman saya masih getol-getolnya mengekpresikan jiwa kesenimanannya lewat media seni grafis kontemporer dan seni lukis. Malahan dia juga mengira bahwa saya telah berhasil merealisasikan ide saya yang dulu pernah saya utarakan kepada teman saya tersebut. Ehm... benar-benar aneh? BERSAMBUNG :-D

Kamis, 21 Agustus 2008

Siti Pratiwi Masih Menangis



Prolog

Puisi bebas kali ini tercetus oleh berita-berita betapa bertambah menggilanya kebobrokan dewan terhormat negeri ini semakin terkuak. Sehingga saya pun di buat bingung, haruskan saya gembira atas prestasi sebuah badan baru yang berhasil mengungkapkan kerapuhan akhlak dewan-dewan terhormat tersebut. Atau menangis karena semakin tahu jika selama ini kita di wakili pikirannya oleh gerombolan bermuka duka. Tapi yang dapat di pastikan negeri ini pun semakin lama untuk tetap harus menangis.

Siti Pratiwi Masih Menangis
oleh Tazz27

Engkau gemborkan keperkasaanmu kala itu
Seolah dirimu manusia sakti mandraguna
Dengan sekali jentikan jemari semua dapat diperbaiki
Dengan sekali lolongan lantang semua kan dapat kau rubah

Berselimut tirai warna-warni dengan bau amis yang tak terlihat
Berkendara retorika yang sudah amat sangat usang
Tapi apa mau dikata dan memang tak mampu berkata-kata
Jika keberadaan kami memang dibuat buta

Dieluk-elukkan bagai pahlawan
Dilimpahkan sejuta senyuman yang mungkin hanya kemunafikan
Tunduk patuh bagai kerbau yang sudah tahu suatu saat akan disembelih
Tapi apa mau diplih dan memang tak mampu memilih-milih
Jika keberadaan kami memang dibuat harus memilih

Bagai cerita pahit yang tak berujung
Sebagai cerita pengantar mimpi buruk anak-anak kami
Tapi apa mau dihargai dan memang tak mampu untuk membeli
Jika keberadaan kami memang dibuat tak memiliki harga diri

Gelepar, berserakan, dewa-dewa itupun kini belingsatan
Diobrak-abrik cahaya pagi sebuah badan komisi
Berlari tunggang langgang, satu persatu ditelanjangi
Dan tirai-tirai warna-warni berbau amis itupun compang camping

Kabut asap bergumul di atas istana para dewa entah durjana
Singgasana empuk mereka selaksa bara api
Dinding ber-ac serasa semburan asam arang
Mengincar paru-paru para dewa entah durjana yang tercoreng

Coreng moreng terpampang lewat berbagai media
Orang-orang sakti itu satu persatu berubah menjadi momok
Tapi kami memang tak peduli, karena lapar di perut kami yang meringis
Dan tanah pertiwi tempat kami berdiripun masih lebih lama harus menangis

Rabu, 20 Agustus 2008

Berhajilah Dengan Sabar

Prolog
Kemarin malam saya melihat acara news dari beberapa stasiun tv swasta dengan salah satu berita hangatnya "Demo Para Calon Haji 2008". Pada awal saya melihat dan memperhatikan kilasan berita ini adalah, seperti umumnya penikmat berita sayapun bertanya, "Ada apalagi ini, koq para calon haji dan hajjah ("orang-orang yang sudah masuk dalam katagori mapan") dengan pakaian serba putih rela berpanas-panas di bawah terik dan diatas aspal yang menyimpan serta menghantarkan panas pula?". Malam itu sembari menikmati secangkir susu jahe panas yang disediakan oleh istri saya tercinta sebelum ia berangkat tidur, saya memilih salah satu stasiun tv untuk mengikuti berita-berita yang disampaikan oleh pembawa berita yang cantik rupawan dan bersuara merdu, berat, khas karakter pembaca berita pada umumnya. Dan akhirnya berita haji yang saya tunggupun dibacakan. Diberitai eh maaf diberitakan, bahwa di salah satu kota di jawa barat. Sekelompok calon haji, puluhan jumlahnya, melakukan demontrasi di depan kantor salah satu departemen yang menangani perihal pemberangkatan haji. Kelompok demonstran tersebut adalah mereka-mereka yang sudah di daftar dan direncanakan keberangkatannya ke tanah suci tapi batal di tahun 2008 ini. Hal dikarenakan adanya kebijakan undang-undang baru dari panitia haji pemerintah pusat, yang salah satu pasalnya kurang lebih berbunyi demikian "Dalam Setiap 1000 jiwa penduduk hanya 1 orang yang bisa diberangkatkan ke tanah suci". Sebelumnya saya mohon maaf apabila dalam kutipan yang saya ingat tersebut salah. Tetapi disini saya tidak akan mencoba mengulas ataupun membahas tentang keputusan atau kebijakan-kebijakan pemerintah tersebut yang seperti telah sering kita ketahui dari dulu kepengurusan haji di negeri ini belum pernah 100 persen bagus tiap tahunnya. Masih dalam rangkaian berita pembatalan calon jemaah haji, stasiun tv tersebut membuka telepon interaktif. Dan di situ ada seorang penelepon dan dia salah seorang dari banyaknya calon haji yang dibatalkan. Dia mengutarakan akan ketidak puasannya terhadap pemerintah atas pembatalan pemberangkatan hajinya. Dia bercerita bagaimana dia sudah dalam setahun ini menabung untuk memenuhi cita-citanya berkunjung ke Baitullah memenuhi panggilan iman, mempersiapkan cuti dan sebagainya. Dia merasa malu apabila ternyata tahun ini ternyata dia batal berangkat ke tanah suci karena dia sudah memberitahukan kabar gembira kepada kerabat, teman dan sahabat bahwa tahun ini ia akan berangkat menunaikan ibadah haji.
Nah, dalam tulisan saya ini (yang lebih saya titik beratkan untuk para calon haji), ingin saya ulas dari sudut pandang saya yang sangat sederhana sehingga apabila banyak kekurangan maka mohon dima'afkan.

Kisah Teladan
Saya teringat sebuah kisah yang pernah saya baca dari sebuah buku motivasi keimanan dan
mungkin para calon haji sudah banyak yang mengetahui kisah ini. Di kisahkan ada seorang tukang sepatu di sebuah kota negara Iran. Dia seorang muslim yang taat, cinta kepada Alloh dan para Rasulnya. Disebabkan hal itu pulalah dia amat sangat berkeinginan untuk bisa melaksanakan ibadah haji berkunjung ke rumah Sang Maha Mencintai dan yang dicintai. Sekeping-keping demi sekeping ia sisihkan uang dari hasil kerjanya sebagai seorang tukang sepatu. Bertahun-tahun ia kumpulkan. Tak mengenal lelah si tukang sepatu terus dan terus bekerja, membuat pesanan sepatu atau sekedar mereparasi sepatu pelanggan yang sudah usang. Dikisahkan dalam buku tersebut kalau saya tidak salah ingat sampai hampir 40 tahun si tukang sepatu mengumpulkan kepingan-kepingan uang sebagai modal untuk membeli beberapa ekor onta dan perbekalana selama perjalannya ke kota suci. Akhirnya hari yang telah diimpikanpun tiba. Dia telah membeli 2 ekor onta, yang seekor untuk menjadi tunggangan dan mengangkut beberapa bekal, yang seekor lagi khusus membawa perbekalan, seperti baju serta bahan makanan. Tidak lupa dia juga membawa uang untuk membeli bekal lagi di kota-kota yang akan ia lewati apabila bekalnya telah menipis dan juga untuk membeli hewan qurban. Hati sang tukang sepatu begitu bahagia saat itu. Seolah-olah bangunan kotak hitam besar itu sudah bisa ia saksikan di depan matanya. Ka'bah, seakan sudah dapat ia menciumnya. Dan berangkatlah ia, dengan menunggang onta diikuti oleh onta pembawa bekal dibelakangnya yang dikait dengan seutas tali. Wajahnya menampakkan girang yang sangat. Serasa naik permadani terbang ia menyongsong Baitulloh. Gambaran wajah-wajah para jemaah haji yang berkelilig melakukan Thowaf. Bayangan dirinya dapat bertemu saudara sesama muslim dari seluruh dunia. Selangkah dua langkah dan diapun meninggalkan kota kelahirannya. Setelah beberapa hari perjalannya jarak kota sucipun semakin dekat, sampilah ia di pinggiran sebuah kota. Dia berencana membeli perbekalan lagi, dan dia pun mencari pasar di kota itu. Setelah bertanya pada seorang penduduk di kota tersebut, ia pun menuju pasar yang telah ditunjukkan. Tetapi sebelum dia mencapai pasar, sekonyong-konyong dia melihat di pinggiran pasar tersebut. Seorang perempuan sedang memungut bangkai seekor unggas sambil tergopoh-gopoh. Wajah perempuan tersebut tampak pucat, dengan pakaian lusuh penuh jahitan tambalan disana sini agar tetap bisa menutupi aurotnya dengan rapat sebagai seorang perempuan. Si tukang sepatu merasa penasaran, apa sebenarnya yang di lakukan oleh perempuan tersebut, niatnya untuk ke pasar membeli perbekalanpun ia tunda. Ia memilih untuk mengikuti perempuan yang tergopoh tadi. Si tukang sepatu tambah terkejut, ketika ia melihat perempuan tadi berhenti di buah sumur. Perempuan tadi menyembelih bangkai unggas tadi dan mengulitinya selanjutnya memotong-motong daging bangkai unggas tersebut dalam ukuran kecil.
"Astaghfirullah", si tukang sepatu bergumam. Apa sebenarnya yang sedang dilakukan oleh perempuan yang sedang diamatinya ini? Mungkinkah ia akan menjual daging haram tersebut? Apabila memang demikian maka si tukang sepatu pun harus segera mencegahnya. Si tukang sepatu mendekati perempuan tadi dengan sedikit tergesa.
"Assalamualaikum", salam si tukang sepatu kepada si perempuan. Si Perempuan tampak kaget, karena ia tidak mengetahui kedatangan seseorang dari belakang punggungnya.
"Wa alaikum salam wa rahmatullahi wa rakatuh", Si perempuan menjawab sambil membalikkan tubuhnya ke arah datangnya salam. Sekelibat perempuan itu memperhatikan seseorang yang ada di hadapannya, kemudian menundukkan kepala sambil menutupi bagian wajahnya dengan kerudung lusuh yang menutupi kepala.
" Wahai adinda, mohon di ma'afkan seseorang yang renta ini, sekiranya mengagetkan dan mengganggu adinda", Si tukang sepatu membuka pembicaraan.
" Aku telah mengikuti semenjak dari pinggiran pasar tadi, dan aku telah tau apa yang engkau sedang kerjakan ini. Yang aku tidak tahu, akan engkau apakan daging-daging haram tersebut?", Si tukang sepatu bertanya dengan nada sangat lembut.
Si perempuan tampak kikuk, wajah di balik kain yang ia tutupkan dengan tangan kanannya memerah. Bingung dari mana ia harus memulai menjawab.
" Saya tahu wahai orang tua, tentang hukum daging yang sedang aku potong ini, sebenar-benarnya saya tahu akan mana yang hak dan yang bathil. Karena sesungguhnya saya masih dalam keturunan cucu Hasan cucu Rasulallah Salallahu Alaihi Wassalam". Si perempuan menjawab dengan nada bergetar. Suaranya seperti seseorang yang sudah berhari-hari tidak makan. Si tukang sepatu terperanjat, kaget. Subkhanallah, ia bertemu salah seorang anak cucu dari orang yang amat dicintai dan dirindui, Rasulallah Muhammad
Salallahu Alaihi Wassalam, tetapi dalam keadaan yang demikian.
"Apabila engkau tahu akan itu, kenapa daging haram itu engkau perlakukan selayaknya daging halal?', Si tukang sepatu bertanya lagi.
" Sesungguhnya yang haram itu adalah halal bagimu apabila dalam keadaan terpaksa, sesungguhnya sudah hampir seminggu anak-anak saya tidak makan, dan sayapun sudah mencoba berusaha dengan keras mencari yang halal, tapi apakah yang bisa dilakukan oleh saya, seorang perempuan janda yang harus teguh menjaga kehormatan?, untuk itulah saya memungut bangkai ini dan memperlakukannya selayaknya daging halal, demi untuk bertahan hidup anak-anak saya dan akan saya katakan bahwa daging ini hadiah dari seseorang budiman", Si perempuan memberikan jawaban alasan akan tindakannya.
" Astaghfirullah hal 'azdim", Si orang tua berkata sambil mengelus dada. Kakinya terasa lemas, lututnya pun sedikit gemetar. Dalam sesaat dia hanya bisa terdiam. Dalam hatinya berkecamuk, Ya Allah kenapa seorang anak cucu kekasihMu tercinta Engkau berikan cobaan yang demikian hebat?, tak beberapa di sudut matanya dengan kelopak yang sudah berkeriput tampak setitik kilatan, pantulan sinar matahari dari air mata yang keluar.
" Betapa hanjur hati begitu mendengar cerita mu wahai adinda, dan betapa berdosanya saya apabila tidak melakukan sesuatu untuk menolongmu". Si tukang sepatu berkata dengan nada serak.
" Ketahuilah bahwa saya sesungguhnya dalam perjalanan ke tanah suci untuk melakukan ibadah haji. Saya membawa 2 ekor unta dan perbekalan serta uang yang mungkin tak begitu seberapa jumlahnya. Namun adinda, ambilah onta saya yang seekor beserta bekal yang ada di atas punggungnya dan ambil pulalah uang yang aku bawa ini. Perbuatlah seuatu dengan uang itu di kemudian hari, agar engkau terhindar dari kefakiran. Dan penuhilah kebutuhanmu dan anak-anakmu hari ini dengan perbekalan yang aku berikan, demi Alloh saya ikhlas", Si tukang sepatu berkata sambil menjulurkan tali ikatan onta dan memberikan sebagian besar uang yang ia miliki. Si perempuan tampak senang bukan kepalang, dia bersyukur kepada Alloh, dan tak henti-hentinya berucap terima kasih kepada si tukang sepatu. Setelah itu ia berlari kecil sambil menarik onta pemberian, tak sabar untuk memberi kabar gembira kepada anak-anaknya yang kelaparan.
Sang tukang sepatu akhirnya berbalik arah, ia kembali ke arah ia berangkat, pulang. Dia sama sekali tidak bersedih dan kecewa karena keinginan yang telah di pendam sekian lama, tidak bisa ia wujudkan. Tetapi ia justru bersyukur, karena apa yang ia kumpulkan selama ini ternyata bisa membawa manfaat pada orang lain yang jauh lebih membutuhkan dan bukankah pahala itu telah terhitung sejak kita berniat melakukan suatu kebajikan. Dirinya pun bertekad akan mengumpulkan kepingan-kepingan uang lagi walaupun ia tahu usianya tak memungkinkan bila harus menunggu 40 tahun lagi. Tapi bukankah Allah maha berkehendak?, bila Ia menghendaki niscaya tidak ada sesuatu yang mustahil.
Beberapa minggu setelah si tukang sepatu kembali ke rumah, saat para ibadah haji pulang pun tiba. Ia memutuskan untuk bertandang ke salah seorang kenalannya yang baru saja pulang dari tanah suci. Ia ingin mendengarkan cerita kenalannya tersebut selama menjalankan ibadah haji. Karena meski hanya mendengar dari orang lain pun ia sudah teramat bahagia. Ketika ia bertemu dengan kenalannya tersebut, setelah saling berucap salam, mereka berpelukan melepas kerinduan.
Betapa terkejutnya ia, karena kenalannya tersebut berkata,"Selamat, selamat, saudara seberangkatan haji, semoga engkau di anugerahi haji mabrur. Di tanah suci engkau tampak lebih tampan dari yang ku lihat sekarang, di sana juga tak kulihat engkau tampak kelelahan". Si tukang sepatu tampak kebingungan dan ia pun hanya mendo'akan semoga Alloh menerima ibadah haji kenalannya tersebut.
Ketika Sang tukang sepatu tersebut sampai di rumah, ia masih heran, kenapa kenalannya bisa berkata kalau ia bertemu dengan dirinya di tanah suci? Di dalam bengkel sepatunya ia masih tak habis fikir.
Tiba-tiba terdengar suara salam dari luar, "Assalamualaikum".
"Wa alaikumsalam warahmatullohi wabarakatuh", si tukang sepatu menjawab sembari berjalan mendekati pintu rumahnya yang sangat sederhana. Setelah ia membukakan pintu maka di lihatnya sosok pemuda gagah nan tampan. Belum pernah seumur hidupnya melihat seseorang yang sedemikian gagah nan tampan seperti yang sekarang ia lihat. Tapi betapa terperanjatnya dia, ketika ia perhatikan dengan lebih seksama, ternyata orang tersebut kedua kakinya tidak menyentuh tanah. Si tukang sepatupun ketakutan, siapakah gerangan atau mahluk apakah yang ada dihadapannya ini? Sang pemuda memegang kedua bahu si tukang sepatu yang sudah nampak sempoyongan dan menuntunnya ke sebuah kursi. Mereka duduk berhadap-hadapan. Si tukang sepatu dapat melihat dengan jelas betapa wajah pemuda seperti bersinar, cerah membuat siapapun yang memandang akan merasa bahagia.
Si pemuda pun mulai membuka pembicaraan," Hai bapak ahli surga, jangan engkau terkejut karena sesungguhnya aku ini seorang malaikat yang di utus oleh Alloh untuk menyampaikan kabar gembira".
Justru tambah terkejut si tukang sepatu ini, karena seseorang di hadapnnya ini menyebut dirinya sebagai seorang malaikat dan memanggil si tukang sepatu sebagi ahli surga.
Si pemuda meneruskan kata-katanya," Tahukah engkau, bahwa aku merubah wujudku menyerupai engkau, dan menggantikanmu di tanah suci melalukan ibadah haji untukmu dengan seijin Alloh, yang tentu saja akan banyak orang yang mengenalmu bertemu dirimu di tanah suci".
Demi mendengar kabar tersebut, bergumul perasaan di hati si tukang sepatu, bahagia, penasaran, heran, takut, bercampur aduk. Jantungnya berdetak kencang, benarkah yang di hadapnnya ini seorang malaikat dan benarkahlah pula berita yang di bawanya?
Dengan mengumpulkan kekuatan, si tukang kayupun berkata dan bertanya," Apabila benar adanya engkau dan berita yang engkau bawa, maka syukur saya haturkan kepada Alloh. Dan perbolehkan aku bertanya, karena enggkau seorang malaikat yang tentu pengetahuanmu lebih luas dari pada saya. Beri tahu saya berapa banyakkah jumlah jemaah haji tahun ini? dan berapa banyakkah yang hajinya di terima di sisi Tuhanku?
Sang pemuda yang ternyata seorang malaikat Alloh sambil tersenyum ia menjawab," Ada 400 ribu orang yang melakukan ibadah haji tahun ini, dan yang di terima ibadahnya di sisi Alloh hanya 40 orang dan dirimu salah satu dari 40 orang itu".
Demi mendengar jawaban tersebut si tukang sepatupun menangis, tangisan bahagia. Karena Alloh telah menjawab do'anya selama ini.
Keesokan harinya si tukang sepatupun tampak berseri. Karena malam tadi dia bermimmpi bertemu Rasulallah dan di dalam mimpinya beliau berterima kasih karena telah menolong salah seorang anak keturunannya, dan berkata bahwa beliau akan menemuinya di surga. Walallahu a'lam bissawab.

Petikan buah pembesar hati
Apabila mengetahui cerita si tukang sepatu diatas dan mencoba merenungi dan memahami. Maka sesungguhnya protes atau demonstrasi dari para calon jemaah haji yang gagal di berangkatkan tahun ini tidak semestinya terjadi. Terlepas dari kebijakan-kebijakan pengambil keputusan dari panitia penyelenggara haji yang tentu saja masih banyak yang harus di benahi di sana sini. Karena bukankah sejak awal ketika calon jemaah haji mulai menabung atau mengumpulkan biaya ibadah haji, dari situ satu pahala sudah di hitung oleh Alloh? Setiap sen dan setiap cucuran keringat demi mengumpulkan sen demi sen tersebut mengalir pahala Alloh. Apalagi apabila kita ketahui, bahwa ibadah haji ini bisa di sebut sebagai puncaknya ibadah. Karena kesiapan yang di butuhkan seorang calon haji teramatlah besar. Selain biaya untuk dirinya, juga biaya yang akan ditinggalkannya. Dan yang paling penting dari kesiapan-kesiapan tadi adalah mental kesabaran. Di tekankan seorang jemaah haji memiliki kesabaran yang sangat besar, demi menghasilkan seorang haji yang mabrur. Seorang haji tanpa ada cerminan kebijakan dan kesabaran dalam dirinya, pantaslah di tanyakan ke-mabrurannya. Kenapa harus pula malu apabila tahun ini keberangkatan kita ke tanah suci harus tertunda?, toh itu bukan kesalahan dan kemauan kita. Kenapa harus di sesali semua persiapan dan rencana yang sudah dilakukan? Bukankah selama itu selalu mengalir pahala Alloh, dan biarlah terus mengalir jangan di hentikan karena ketidak ikhlasan. Saya mencoba memahami betul, betapa besar sudah biaya, tenaga dan fikiran para calon jemaah haji yang tertunda. Apalagi dalam pandangan saya, seseorang yang belum tergolong "mapan", tentu biaya yang sudah dipersiapkan amat sangat besar. Tapi sekali lagi, dengan penuh kerendahan hati. Bagi anda, suami anda, teman atau kerabat anda, atau siapa saja yang tahun ini ke-hajiannya terpaksa tertunda, tolong beritakan kisah si tukang sepatu di atas. Berhajilah dengan kesabaran, dan akhirnya semoga membawa manfa'at. Amien Yaa Robbal 'alamin

Selasa, 19 Agustus 2008

Mistery Of An Idea vol.1 capture.1

MEKANISME IDE
Oleh Tazz27

Prolog
Sepenggal pemikiran ini akan lebih mudah dicerna bagi siapa saja yang senang atau pernah berpikir untuk menemukan sebuah ide dan bagi mereka yang percaya akan keberadaan zdat yang Maha Hebat yaitu Tuhan. Tapi bagi mereka yang belum pernah sekalipun mencoba untuk mendapatkan sebuah ide dan yang tidak percaya adanya Tuhan, maka buah pikiran sederhana dapat dijadikan sebagai wacana.
Bagaimana mekanisme sebuah ide itu ditangkap dan bekerja pada seseorang? Pertama karena saya seorang muslim yang mana percaya akan Kekuatan Tuhan Alloh Subkhanahu Wa Ta’ala, maka saya katakana bahwa ide itu diberikan oleh Tuhan yang hanya diberikan pada orang-orang yang mau merenung, berfikir dan bekerja keras. Tapi tentu saja bagi orang yang beragama di tambah point satu lagi yaitu berdo’a. Karena dalam agama yang saya anut ada sebuah kalimat bijak yang terlontar dari panutan kami yaitu Muhammad Rasulallah Salallahu Alaihi Wassalam, “Barang siapa yang bersungguh-sungguh maka ia mendapatkan”. Terlepas dari seseorang tersebut percaya akan Tuhan atau tidak, kalau dia bersungguh-sungguh dalam berfikir dan berusaha maka dia akan mendapatkan suatu hasil. Dalam hal ini sebuah ide akan diberikan oleh Tuhan bagi siapa saja yang mau benar-benar merenung dan berfikir serta tak lelah untuk mencari. Dan ide tersebut akan dia dapatkan dari banyak sumber yang akan meng-inspirasi dirinya menjadi sebuah ide baru.
Selanjutnya apakah sebuah ide hanya diberikan pada satu orang? Nah di sinilah misteri dari ide itu muncul. Saya rasa sangat menggelitik dan menarik untuk dikelupas. Menurut saya suatu ide tidak hanya diberikan diberikan pada satu orang, tapi diberikan pada beberapa orang yang memiliki kriteria kualitas perenungan, pemikiran dan ritme berusaha yang sama. Ide tersebut bisa diberikan dalam waktu yang sama atau dalam selisih waktu. Jadi apabila ada manifestasi dari ide beberapa orang yang hampir sama atau bahkan sama, belum tentu salah satu dari dua atau beberapa tersebut adalah seorang plagiator. Pun begitu juga sebaliknya belum tentu dua atau beberapa orang tersebut mendapatkan ide yang sama, bisa jadi seorang atau dua adalah plagiator tulen. Disini saya berbagi pengalaman pribadi saya dan cerita-cerita mengenai ide menarik lain yang saya ketahui sehingga membuahkan kesimpulan seperti yang saya sampaikan tadi.

Cerita-cerita Muasal Pemikiran
1. Internet Café – Café Internet
Pernah suatu waktu seorang pengusaha eksportir furniture yang kebetulan menjadi klien saya di daerah Solo berminat untuk memberikan saya modal untuk membuat sebuah usaha di tempat saya tinggal yaitu Yogyakarta. Kenapa ia mau mempercayakan modal itu terhadap saya? Sebelumnya tanpa maksud membanggakan diri yang teramat bodoh ini saya akan berikan alasan kenapa dia mau memberikan kepercayaan tersebut. Menurut pendapatnya, saya yang waktu itu berusia 23 tahun adalah seorang muda yang
sangat berpotensi dan ber-etos kerja tinggi serta tidak silau terhadap materi. Saya tidak tahu darimana dia bisa berpikiran demikian? Mungkin karena saya yang berposisi di Yogyakartan mengendarai sepeda motor sampai ke daerah pinggiran Solo mencari klien dari satu perusahaan ke perusahaan lain menawarkan media publikasi bagi perusahaan-perusahaan tersebut. Sampai akhirnya saya bisa menjalin hubungan kerja dengan penawar modal tadi. Pengusaha tersebut ingin mendirikan sebuah usaha di Yogyakarta dan meminta saya mengelola usaha tersebut. Jenis usahanya diserahkan sepenuhnya kepada diri saya, terserah usaha apa saja yang pasti halal dan legal. Saya mencoba berfikir, usaha apa kiranya yang bisa saya dirikan. Dan suatu saat saya melihat sebuah adegan dalam sebuah film Hollywood dimana ada adegan seorang pemeran utama dalam pelariannya dia berusaha menghubungi temannya lewat media internet. Dia menggunakan komputer yang memang sengaja disewakan di dalam sebuah café, dan di dalam café tersebut hanya tersedia 3 atau 4 unit komputer. Dari situlah tercetus ide yang kemudian saya ajukan sebagai sebuah rencana usaha dan proposal anggaran, yaitu sebuah Internet Café – Café Internet. Konsep usaha tersebut adalah, sebuah tempat dimana orang-orang dapat menyewa komputer disitu untuk kebutuhan akses internet, tapi di dalam tempat tersebut juga di sediakan Café dengan kelengkapan tempat-tempat duduk dan meja serta menu-menu dan alunan musik. Di café tersebut orang bisa bersantai sambil menunggu apabila komputer-komputer yang tersedia masih penuh terpakai. Meraka bisa memesan minuman, makanan, mendengarkan alunan musik atau menonton tivi kabel. Yang pasti sebuah internet café yang didalamnya benar-benar ada sebuah café. Pada waktu tersebut sekitar tahun 2000an konsep usaha seperti yang saya ajukan di Yogyakarta belum ada satupun. Anggaran yang saya ajukan untuk usaha tersebut adalah Rp.200.000.000,- dan dalam anggaran yang saya ajukan, perkiraan modal akan dapat kembali dalam jangka waktu 3 tahun. Huwarakadah! angka 200 juta bagi pengusaha tersebut masih terlalu besar bagi sebuah usaha yang sama sekali baru pada waktu itu dan mungkin TERLALU GILA. Sehingga besar modal yang berani ia berikan hanya Rp.50.000.000,-. Dia mengatakan silahkan gunakan uang tersebut untuk menambah modal usaha yang sudah saya lakukan yaitu di bidang advertensi dengan sistem bagi hasil dan pengembalian uang diserahkan sepenuhnya ke saya, terserah, dikembalikan silahkan ditambahkan untuk usaha lagi ya silahkan. Saya katakana bahwa nantinya masih di gedung yang sama akan saya buat satu ruangan khusus untuk studio desain dan kantor advertensi saya juga. Dan saya juga coba meyakinkan bahwa bisnis teknologi dalam hal ini internet sangatlah menjanjikan, tetapi karena pengusaha tersebut tidak begitu intens dalam mengikuti perkembangan teknologi maka ia tetap belum berani mengeluarkan uang sebesar 200 juta tersebut. Sampai pada akhirnya bentuk kerja sama baru itupun gagal karena tidak ada kesepakatan. Karena waktu itu usia saya masih muda sehingga dalam pengambilan keputusan masih ego yang lebih menonjol dan bukan penalaran. Sebagai catatan pada waktu itu bisnis ekspor furniture sangat bagus, karena produk furniture Indonesia sangat di minati oleh masyarakat Eropa, Amerika dan Australia. Dan pengusaha tersebut sangat sukses dalam usaha tersebut, karena dalam satu tahun dia bisa mencapai angka hampir 1000 kontainer furniture yang ia pasarkan ke luar negeri.
Selang beberapa waktu mungkin sekitar 3 bulanan, pada suatu kesempatan saya melihat sebuah acara grand opening sebuah internet café di pinggiran Yogyakarta. Bukan riuh acara grand openingnya yang akan saya ceritakan, tetapi konsep usaha internet tersebut karena konsepnya persis sama seperti konsep yang saya ajukan pada pengusaha Solo 3 bulan yang lalu, dan beberapa bulan berikutnya konsep Internet Café – Café Internet tersebut banyak bermunculan menjadi sebuah usaha yang sangat prospektif. Apalagi sekarang harga sewa provider semakin murah, kecepatan akses yang semakin kencang dan harga hardware komputer yang murah dengan teknologi lebih bagus. Sebagai catatan lagi bahwa perusahaan café internet di jogja tadi sama sekali tidak ada hubungannya dengan pengusaha Solo. Karena perusahaan internet café tersebut sebelumnya adalah sebuah perusahaan main dealer computer terkenal yang beralih usaha, dan yang menarik lagi masih dalam satu gedung internet café tersebut juga berdiri sebuah jasa advertensi yang dalam perkembangannya juga penyedia jasa digital outdoor printing. Ehm, sebuah hal yang menarik bukan? Dimana saya tidak mengenal si pencetus ide dari perusahaan internet café dan advertensi tersebut tetapi bisa memiliki ide yang sama dengan saya.

2. Sepeda Motor Pick-up
Hal lain lagi saya alami. Saya pernah diminta pendapat lebih tepatnya ide oleh seorang teman. Dia bertempat tinggal di sebuah komplek perumahan di pinggiran Yogyakarta. Ketika itu selain dia bekerja sebagai tenaga pemasaran advertising, dia juga melakukan jasa ojek bagi beberapa anak SD dan SMP di komplek perumahannya. Dimana setiap pagi ia mengantarkan anak-anak tersebut ke jalan yang dilalui angkutan umum yang jaraknya lumayan jauh dari dalam komplek. Tetapi permasalahannya ia tidak bisa memenuhi permintaan beberapa orang tua lain untuk menggunakan jasanya, karena tentu saja waktunya sangat terbatas sedangkan kapasitas anak yang dapat diboceng di atas sepeda motornya hanya 2 anak. Dan dia harus bolak-balik menjemput anak yang lain dari dalam komplek ke jalan raya dan sebaliknya. Oleh sebab itulah dia bertanya apakah sebaiknya dia berhenti dari pekerjaannya sebagai tenaga pemasaran dan menekuni sepenuhnya sebagai tukang ojek? Ketika itu aku jawab,” Jangan”, karena bagi saya ketika ia bekerja sebagai pemasaran advertising tidak semata-mata hanya bekerja. Di situ juga sebagai penambahan wawasan, pergaulan dan pengalaman. Dimana dia dapat bertemu dengan teman dan orang-orang dari berbagai sisi bidang usaha dan kehidupan. Sedangkan apabila dia hanya menekuni hanya sebagai tukang ojek, maka secara otomatis dunianya hanya di seputar komplek, stagnan bahkan bisa-bisa mandul etos kerja dan kreatifitas.
Nah ketika itu saya melihat perkembangan baru di dunia alat transportasi. Waktu itu mulai marak di gunakan sebuah sepeda motor yang di belakangnya digandengkan sebuah bak terbuka seperti pada mobil pick up tapi dengan ukuran yang lebih kecil. Sepeda motor beroda tiga dengan bak terbuka tersebut mulai banyak saya lihat di jadikan alat angkut oleh kios-kios penjual tabung gas dan penjual air mineral botol besar. Sepeda motor ber-bak tersebut setiap hari lalu lalang mengantarkan pesanan barang-barang yang ia bawa di dalam bak belakang tesebut. Tercetus ide, bagaimana kalo sepeda motor ber-bak tersebut di alih fungsikan bukan untuk mangangkut barang, tetapi mengangkut manusia. Dengan sedikit renovasi pada bak terbukanya, dibuatkan jok-jok tempat duduk yang saling berhadapan dan di beri atap. Bahkan bila perlu di cat dengan warna yang lebih menarik. Sepeda motor ber bak yang sudah di renovasi tersebut akan bisa menampung lebih banyak anak-anak paling tidak 4 sampai 6 orang anak dari pada sepeda motor biasa yang hanya 2 orang anak. Nah bukankah hal tersebut akan lebih efektif dan efisien bagi teman saya tadi. Dan pada waktu dia harus bekerja, kendaraan inovasinya tersebut bisa di sewakan pada orang lain yang dia percaya di komplek untuk mengojek penghuni komplek dari jalan raya ke dalam komplek, pun sebaliknya sampai sore hari. Hal tersebut malah bisa memberi manfaat pada orang lain. Huwarakadah! Teman saya malah berpikir saya sengaja ingin memperoloknya dengan ide edan seperti itu, padahal waktu itu saya serius dan saya pikir itu ide jenius. Menurut teman saya nanti pasti banyak yang tidak mau menggunakan kendaraan tersebut, karena pada dasarnya itu kendaraan pengangkut barang, bukan orang. Saya pun menyangkal, kalau kita sajikan apa adanya dari bentuk sepeda motor ber-bak tersebut memang orang tidak akan sudi naik di atas nya tapi lain persoalan kalau kendaraan tersebut kita sajikan dengan (istilah) yang lebih manusiawi, tetap saja teman saya tidak yakin. Dan ide saya itupun sekali lagi tak terealisasi.
Selang beberapa waktu lagi mungkin 1 atau 2 bulan setelah itu saya pulang menjenguk orang tua di kampung halaman saya di Pekolangan, misteri ide itu pun terjadi lagi! Ketika itu aku bertandang ke rumah kakak perempuan saya yang tinggal di sebuah komplek perumahan yang masih satu kecamatan dengan rumah orang tua saya. Di depan gerbang masuk komplek perumahan itu saya melihat sebuah sepeda motor ber-bak yang sudah di renovasi sedemikian rupa persis seperti ide yang saya utarakan pada teman saya beberapa bulan yang lalu, sedang istirahat sambil menunggu penumpang. Dan ketika saya masuk komplek perumahan itu saya juga melihat jenis kendaraan yang sama lainnya sedang berjalan dengan beberapa ibu-ibu penumpang di belakangnya, aneh kan?!

3. Transaksi Cellular Card
Cerita lain lagi. Pada beberapa bulan yang lalu saya melihat sebuah acara talk show tentang dunia perbankan dan usaha di salah satu televisi swasta dengan salah satu bintang tamunya seorang penulis lagu terkenal seorang suami dari seorang diva. Ketika itu dia mengatakan bahwa fenomena penjualan nada sambung pribadi yang diluncurkan oleh hampir semua operator telekomunikasi merupakan fenomena yang sangat menarik. Dimana setiap pengguna bisa menggunakan lagu-lagu yang ia sukai menjadi nada sambung pribadinya dengan cara mengirim sms dengan kode tertentu dan secara otomatis jumlah nilai pulsa dari pengguna prabayar akan berkurang sebagai pembayaran royalty yang harus diberikan atau bagi pengguna pasca bayar akan secara otomatis pada tagihan bulan di depan akan muncul pada billing invoice-nya pembayaran royalty lagu tersebut. Dia juga mengatakan fenomena penyaluran bantuan, amal, atau zakat, dapat dilakukan dengan mekanisme cara seperti penggunaan nada sambung tadi. Seperti juga pada proses transaksi penjualan pulsa tronik. Si penjual sudah memiliki tabungan pulsa, sehingga ketika ada pembeli yang membutuhkan pulsa mereka tidak perlu lagi menerima kartu voucher yang harus di gesek baru kemudian mengaktifkan nilai pulsa yang tertera pada voucher tersebut. Tetapi cukup si penjual mengirim kode tertentu besaran pulsa yang di beli kepada nomor si pembeli, dan secara otomatis pulsa si pembeli akan terisi pulsa sesuai dengan angka yang dikirim oleh si penjual tadi. Hal yang sama juga sudah di lakukan untuk penjualan konten-konten menarik pada pesawat handphone, seperti game, animasi lucu, atau ringtone spesifik yang unik, pengguna cukup mengetik reg spasi bla bla bla dan dalam waktu sekejap konten menarik itupun sudah bisa di gunakan dalam pesawat handphone mereka. Melihat fenomena-fenomena tersebut sang bintang tamupun mempunyai ide, yang sesuai dengan dunia yang ia geluti yaitu dunia musik. Dia ingin merekrut sebanyak mungkin penyanyi-penyanyi atau group-group band yang bagus tetapi belum mendapat kesempatan untuk memperdengarkan lagu-lagunya ke masyarakat melalui dunia rekaman. Dia akan memfasilitasi agar seniman-seniman tersebut bisa merekam lagu-lagu mereka, dan bagi masyarakat yang ingin mendengarkan lagu-lagu tersebut kapan saja bisa mendapatkannya melalui soft copy atau hard copy, hanya dengan mengirimkan sms tertentu ke nomor khusus, dan dalam beberapa hari hard copy dari album artis tertentu sudah akan terkirim ke pembeli. Dengan melihat kemajuan teknologi di atas, ia juga memberikan wacana, bahwa suatu saat nanti, fungsi kartu seluler akan menggantikan fungsi kartu kredit. Kartu seluler bisa untuk melakukan transaksi jual beli, karena pada dasarnya orang yang memiliki pulsa berlimpah sama dengan memiliki uang berlimpah pula.
Selang sekitar 2 – 3 bulan berjalan, pada setiap awal bulan saya menerima billing invoice dari operator telekomunikasi yang saya gunakan. Seperti biasa dalam amplop tagihan tersebut juga di sertakan semacam bulletin bulanan, yang antara lain menginformasikan produk-produk baru dari operator tersebut. Dan sekali lagi terjadi misteri ide. Saya baca dalam bulletin tersebut, sebuah produk anyar, dimana apabila pengguna kartu telah malakukan registrasi maka ia dapat melalukan transaksi dengan kartu seluler tersebut ke vendor-vendor yang telah menjalin kerja sama dengan operator. Yang mana pada setiap vendor sudah di berikan alat khusus yang bisa terkoneksi dengan nomor kartu yang di gunakan pelanggan dan akan mencetak faktur jumlah total belanja yang pelanggan lakukan.
Bila melihat kasus fenomena kartu seluler ini mungkin sedikit berbeda. Kita bisa beranggapan bahwa pihak operator terinspirasi dari talk show dimana sang artis mengungkapkan sebuah wacana. Tapi apabila kita melihat dari jarak waktu antara acara talk show yang tersiar dengan peluncuran produk baru dari operator seluler tadi saya pikir sangat singkat, hanya kurang dari 3 bulan. Mungkinkah dalam jangka waktu tersebut operator seluler dapat menyelesaikan dealing dengan beberapa vendor sekaligus yang tentu saja membutuhkan waktu yang tidak singkat. Mendistribusikan alat-alat yang harus dipasang di setiap vendor, yang bahkan salah satu vendor adalah sebuah perusahaan waralaba yang jumlahnya ratusan di seluruh pulau Jawa. Belum lagi mempersiapkan sumber daya tambahan, baik hardware maupun software bahkan sumber daya manusia. Selain itu juga butuh waktu untuk uji coba guna mengeliminir kesalahan-kesalahan dalam praktek yang sesungguhnya. Saya yakin paling sedikit butuh waktu 6 bulan untuk itu semua. Kesimpulannya bahwa misteri ide tentang mekanisme sebuah ide melakukan perannya disini. BERSAMBUNG :-D