
Prolog
Puisi bebas kali ini tercetus oleh berita-berita betapa bertambah menggilanya kebobrokan dewan terhormat negeri ini semakin terkuak. Sehingga saya pun di buat bingung, haruskan saya gembira atas prestasi sebuah badan baru yang berhasil mengungkapkan kerapuhan akhlak dewan-dewan terhormat tersebut. Atau menangis karena semakin tahu jika selama ini kita di wakili pikirannya oleh gerombolan bermuka duka. Tapi yang dapat di pastikan negeri ini pun semakin lama untuk tetap harus menangis.
Siti Pratiwi Masih Menangis
Engkau gemborkan keperkasaanmu kala itu
Seolah dirimu manusia sakti mandraguna
Dengan sekali jentikan jemari semua dapat diperbaiki
Dengan sekali lolongan lantang semua kan dapat kau rubah
Berselimut tirai warna-warni dengan bau amis yang tak terlihat
Berkendara retorika yang sudah amat sangat usang
Tapi apa mau dikata dan memang tak mampu berkata-kata
Jika keberadaan kami memang dibuat buta
Dieluk-elukkan bagai pahlawan
Dilimpahkan sejuta senyuman yang mungkin hanya kemunafikan
Tunduk patuh bagai kerbau yang sudah tahu suatu saat akan disembelih
Tapi apa mau diplih dan memang tak mampu memilih-milih
Jika keberadaan kami memang dibuat harus memilih
Bagai cerita pahit yang tak berujung
Sebagai cerita pengantar mimpi buruk anak-anak kami
Tapi apa mau dihargai dan memang tak mampu untuk membeli
Jika keberadaan kami memang dibuat tak memiliki harga diri
Gelepar, berserakan, dewa-dewa itupun kini belingsatan
Diobrak-abrik cahaya pagi sebuah badan komisi
Berlari tunggang langgang, satu persatu ditelanjangi
Dan tirai-tirai warna-warni berbau amis itupun compang camping
Kabut asap bergumul di atas istana para dewa entah durjana
Singgasana empuk mereka selaksa bara api
Dinding ber-ac serasa semburan asam arang
Mengincar paru-paru para dewa entah durjana yang tercoreng
Coreng moreng terpampang lewat berbagai media
Orang-orang sakti itu satu persatu berubah menjadi momok
Tapi kami memang tak peduli, karena lapar di perut kami yang meringis
Dan tanah pertiwi tempat kami berdiripun masih lebih lama harus menangis
oleh Tazz27
Engkau gemborkan keperkasaanmu kala itu
Seolah dirimu manusia sakti mandraguna
Dengan sekali jentikan jemari semua dapat diperbaiki
Dengan sekali lolongan lantang semua kan dapat kau rubah
Berselimut tirai warna-warni dengan bau amis yang tak terlihat
Berkendara retorika yang sudah amat sangat usang
Tapi apa mau dikata dan memang tak mampu berkata-kata
Jika keberadaan kami memang dibuat buta
Dieluk-elukkan bagai pahlawan
Dilimpahkan sejuta senyuman yang mungkin hanya kemunafikan
Tunduk patuh bagai kerbau yang sudah tahu suatu saat akan disembelih
Tapi apa mau diplih dan memang tak mampu memilih-milih
Jika keberadaan kami memang dibuat harus memilih
Bagai cerita pahit yang tak berujung
Sebagai cerita pengantar mimpi buruk anak-anak kami
Tapi apa mau dihargai dan memang tak mampu untuk membeli
Jika keberadaan kami memang dibuat tak memiliki harga diri
Gelepar, berserakan, dewa-dewa itupun kini belingsatan
Diobrak-abrik cahaya pagi sebuah badan komisi
Berlari tunggang langgang, satu persatu ditelanjangi
Dan tirai-tirai warna-warni berbau amis itupun compang camping
Kabut asap bergumul di atas istana para dewa entah durjana
Singgasana empuk mereka selaksa bara api
Dinding ber-ac serasa semburan asam arang
Mengincar paru-paru para dewa entah durjana yang tercoreng
Coreng moreng terpampang lewat berbagai media
Orang-orang sakti itu satu persatu berubah menjadi momok
Tapi kami memang tak peduli, karena lapar di perut kami yang meringis
Dan tanah pertiwi tempat kami berdiripun masih lebih lama harus menangis


Tidak ada komentar:
Posting Komentar