Kamis, 11 September 2008

Hmm Rindu Ramadhan? ( Bagian 2 )


Masihkah Kita Rindu Pada Ramadhan?
Bagian Ke-2


Marhaban Yaa... Ramadhan... Bulan ramadhan 10 hari pertama sudah terlampaui. Kata pak Ustadz, "Sepertiga jalan sudah kita lewati, 10 hari masa dibukanya pintu rahmat Allah selebar-lebarnya bagi siapa saja yang mau memasukinya". Sekarang menapaki 10 hari kedua dalam ramadhan, yang kata pak Ustadz lagi, "10 hari masa dibukanya pintu maghfirah". Seperti tulisan saya di awal ramadhan sebelumnya, bab rindu Ramadhan, di sambungan tulisan (bagian 1 : Agustus ' 08) kali ini pun saya akan coba gambarkan polah tingkah pengejawantahan kerinduan ramadhan yang sering membuat tertawa dalam hati. Tapi sebelumnya saya akan katakan bahwa yang saya tulis ini adalah se-mata-mata apa yang saya rasakan, lihat dan dengar, apabila ada kesinisan dari para pembaca yang budiman saya mohon jangan terlalu dimasukkan ke dalam hati. Silahkan simak beberapa bentuk kerinduan-kerinduan pada bulan Ramadhan di bawah ini,

Kerinduan istri pada Ramadhan
Rindu pada THR yang diterima suami dari tempat kerjanya
Rindu pada paket sembako dari perusahaan suami
Rindu pada SHU yang diterima suami dari koperasi simpan pinjam karyawan
Rindu pada banyaknya potongan harga di toko pakaian

Kerinduan-kerinduan istri pada ramadhan di atas tadi adalah kerinduan dari istri-istri kebanyakan, tidak termasuk di dalamnya istri-istri manajer atau direktur yang hampir pasti tidak akan menemui banyak perbedaan soal pemenuhan kebutuhan dapur antara hari-hari biasa atau hari-hari ramadhan khususnya menjelang idul fitri. Di dalam aktifitas belanja keseharian mereka cukup hanya dengan menggesek sana sini dengan kartu kredit. Ketika ramadhan mereka disibukkan dengan menata berjubel parsel dari kolega sang suami dan mendata parsel-parsel yang juga harus mereka kirim. Tapi apakah kerinduan-kerinduan di atas masih bisa dirasakan oleh istri-istri kebanyakan saat sekarang ini? Jawabannya mungkin sudah jarang. Karena THR atau SHU suami yang diterima, seringkali akan langsung habis untuk melunasi tunggakan hutang atau melunasi iuran pendidikan anak-anak yang mahalnya kian tak masuk akal. Atau juga tidak akan berarti atau bernilai apa-apa karena bahan kebutuhan pokok di pasar harganya akan melangit jika mendekati lebaran.

Kerinduan beberapa profesi pada Ramadhan dari sudut pandang minor
Manifestasi kerinduan-kerinduan pada bulan ramadhan dimana mereka justru rindu pada kesempatan menangguk "kemapanan" dan keuntungan materisebesar-besarnya dengan pemanfaatan profesinya secara maksimal tanpa memperhatikan lagi aturan-aturan yang telah ditetapkan dalam islam ataupun dalam norma masyarakat.

Kerinduan juragan sembako pada Ramadhan
Rindu pada menjadi orang paling penting se-kecamatan melebihi bapak camat itu sendiri
Rindu pada meraup keuntungan dari sembako yang sudah dari 2 bulan sebelumnya ia timbun Rindu pada keuntungan yang berlipat-lipat dari penjualan barang yang hampir kadaluwarsa Rindu pada saat enaknya bisa mengutak-utik harga barang dengan sesuka hati

Kerinduan juragan toko emas pada Ramadhan
Rindu pada pemandangan stok perhiasan di etalase selalu berkurang saban hari karena laris manis diserbu ibu-ibu penggila harga diri
Rindu pada mekanisme pasar perhiasan emas yang edan, menjual dengan harga tinggi membeli dengan harga sangat murah dari konsumen
Rindu pada banyak orang yang terbodohi karena ketidak tahuan soal simpang-siurnya prosentase karat emas pada perhiasan yang akan mereka beli

Kerinduan copet pasar, copet angkutan dan copet terminal pada Ramadhan
Rindu pada begitu mudahnya kerja mereka karena banyak sekali masyarakat yang lengah karena tebius oleh aura pasar yang berubah seolah menjadi surga
Rindu pada keadaan betapa manusia seakan berbondong-bondong menyerahkan diri pada mereka
Rindu pada sambutan meriah para lonte-lonte di malam hari ketika ia kunjungi setelah siang tadi berhasil menggasak puluhan dompet dengan isi penuh duit THR
Rindu pada panen raya maksiat tahunan yang justru terjadi pada ramadhan

Kerinduan travel agent pada Ramadhan
Rindu pada wajah memelas dari para penumpang yang laksana pengemis, meminta-minta meski hanya satu kursi agar bisa mudik
Rindu pada keuntungan yang berlipat-lipat dari naiknya harga tiket yang sudah mereka terapkan jauh hari sebelum penetapan tuslah resmi dari pemerintah
Rindu pada keadaan seperti panen karamba, penumpang tidak perlu lagi harus dijemput seperti hari-hari biasa
Rindu pada kata-kata, "Silahkan kalau mau ya harga tiketnya segitu, kalau enggak ya silahkan nggak usah mudik"

Kerinduan manajer pusat perbelanjaan pada Ramadhan
Rindu pada melangitnya keuntungan karena uforia belanja masyarakat menjelang lebaran
Rindu pada melihat kebodohan orang-orang yang datang ke pusat perbelanjaannya, yang seolah-olah ada pembagian sembako gratis
Rindu pada berhasilnya sistem mekanisme obral yang ia buat, sehingga masyarakat yakin bahwa barang-barang yang ada di pusat perbelanjaannya adalah yang paling murah
Rindu pada bonus penjualan yang jumlahnya jauh lebih besar dari para sales promotion yang pekerjaannya jauh lebih melelahkan

Kerinduan politisi culas pada Ramadhan
Rindu pada parcel-parcel yang datang tiada henti, kamuflase sogokan dari partisan Rindu pada amplop-amplop ucapan selamat menunaikan ibadah puasa dan selamat lebaran yang di dalamnya juga berisi setumpuk dolar
Rindu pada pesangon tambahan dari kegiatan safari ramadhan
Rindu pada pesangon dari para pengusaha yang mengundangnya pada acara buka bersama

Kerinduan selebreti maruk pada Ramadhan
Rindu pada banjirnya tawaran mengisi paket acara ramadhan di stasiun televisi, yang manfaatnya bagi umat penuh dengan tanda tanya
Rindu pada padatnya jadwal shooting dari mulai dini hari, pagi hari, siang hari sampai malam hari lagi, sehingga untuk dapat menopang energi yang terkuras "terpaksa" mereka harus mensuplai "obat-obatan"
Rindu pada diberitakan dia sebagai selebreti santun dan beriman pada acara infotainment, yang pada dasarnya acara tersebut jauh dari manfaat

Kerinduan produser rumah produksi pada Ramadhan
Rindu pada rating puncak dari sinetron ramadhan produksinya yang seringkali justru memperdengarkan dan memperlihatkan hal-hal yang tidak sepatutnya
Rindu pada rating puncak dari sinetron ramadhan produksinya yang beberapa bintangnya pada kenyataannya justru berpenampilan dan berperilaku tidak sesuai dengan norma islam
Rindu pada rating dari puncak paket acara ramadahan atau sinetron ramadhan produksinya yang justru ditimpali dengan kuis-kuis yang bernafaskan judi
Rindu pada sinetron produksinya bisa menghasilkan banyak pemasang iklan, yang terkadang materi iklannya membuat gerah para bapak-bapak karyawan pabrik
Rindu pada proses produksi yang memaksa harus stripping, memeras tenaga para kru yang walhasil banyak dari mereka akhirnya tidak berpuasa

Kesimpulan
Betapa sebenarnya di sebagian besar masyarakat kita baik secara orang per orang maupun secara jamak sudah begitu salah kaprah dalam menyambut ataupun mengisi ramadhan. Dengan kegiatan-kegiatan ( kalau tidak mau disebut adat) yang lebih dekat bahkan sudah masuk di dalam area maksiat. Saya sangat yakin masih banyak lagi hal-hal lain sebagai bentuk manifestasi dari "kerinduan pada ramadhan" yang tidak atau belum saya tuliskan di sini. Pertanyaannya adalah bukanlah mengapa atau siapa, tetapi, "Apakah kita akan terus membiarkan hal-hal yang menodai kesucian ramadhan tersebut akan tetap berlanjut ?". Apakah tindakan pemimpin negeri ini, para aparat negara sebagai penjaga republik dan tokoh-tokoh agama terkemuka yang memiliki ribuan bahkan jutaan massa terhadap ikhwal porak-porandanya kaidah akhlaq tersebut?. Bagaimana negeri ini akan mendapatkan rahmat, maghfirah ataupun hidayah dari bulan suci ini ?, apabila nyata-nyata terjadi penyimpangan di depan hidung negeri ini sendiri. Sekali lagi saya tegaskan masih sangat banyak bentuk-bentuk ketidak lurusan dalam menyambut atau mengisi bulan suci ini. Semoga keluarga, teman, kerabat dan sahabat kita tidak masuk dalam golongan manusia-manusia bengkok yang saya tuliskan di atas. Amien Ya Rabbal 'Alamien.

Selasa, 02 September 2008

Tragedi Jambu Bangkok


Tragedi Jambu Bangkok

Seperti biasa suasana malam sehabis berbuka di kos-kosan E1 tampak riuh. Kos-kosan putra dengan 18 kamar dan berpenghini sekitar 30an mahasiswa, sebuah lingkungan kos yang lumayan besar. Dengan bentuk kotak seperti sebuah benteng lengkap dengan gerbangnya, di tengah-tengah halaman yang cukup lebar kalau hanya buat sebuah lapangan badminton. Setelah berbuka dan sholat maghrib sambil menunggu menunggu isya', penghuni kos yang masih tersisa karena sebagian sudah pulang ke daerah masing-masing di hari ke 22 ramadhan di tahun tersebut, mereka bersantai membiarkan usus di dalam perut memproses makanan berbuka yang sebagian besar berupa nasi bungkus. Beberapa ada yang merokok sambil ngobrol, beberapa lagi ada yang menghabiskan teh sambil mendengarkan siaran radio favorit. Dua atau tiga anak tampak sibuk di tempat cucian membersihkan ajang bekas makanan. Di beberapa kamar terdengar pula alunan ayat-ayat suci yang dibaca beberapa diantaranya masih setengah terbata-bata. Azdan isya' masih sekitar 20 menit lagi, sesekali terdengar tawa dari obrolan kelompok kecil di tengah halaman yang sengaja ditempatkan 2 buah bangku panjang yang saling berhadap-hadapan sebagai tempat mengobrol.
Tetapi ada yang aneh pada malam itu, ya aneh, karena salah satu kamar di bagian depan dekat pintu gerbang masih tampak sedikit terbuka pintunya. Kamar Nuril, mahasiswa angkatan anyar yang berasal dari suatu daerah di Kalimantan. Biasanya setiap kamar akan selalu terbuka pintunya kecuali jika penghuninya sedang malaksanakan sholat atau tidur. Tapi kali ini tidak pada kamar si Nuril, padahal maghrib sudah berlalu lebih dari seperempat jam yang lalu, mungkinkan dia masih tertidur? Kelompok kecil di tangah lapangan merasa heran, dan mulai saling bertanya, kemana si Nuril atau masih tertidurkah Nuril. Karena sekitar jam 5-an tadi memang Nuril sempat bicara pada salah satu diantara mereka, bahwa ia mau istirahat sambil tiduran karena seharian tadi kegiatan kampus cukup melelahkan.
"Hai Lay...coba kamu lihat, tuh Nuril apa ketiduran?, kasihan wong waktu buka udah dari tadi!", Toro salah satu dari kelompok kecil di tangah halaman berteriak menyuruh Lay, mahasiswa baru dari Medan yang kamarnya bersebelahan dengan Nuril, untuk melihat keadaan Nuril.
Lay yang nampak sedang manggut-manggut mendengarkan lagu dari radio beranjak dari duduknya di depan kamar sambil berkata, "Oke bang..", dengan logat bataknya yang kental.
Beberapa saat setelah Lay masuk kamar Nuril, tiba-tiba terdengar dia berteriak dan memanggil Toro,"Alaah Maak....apa pula ini, bang Toro kemari kau...lihat ini, Nuril sekarat!".
Sontak kelompok kecil di tengah halaman kaget, "sekarat!", sebuah kata yang menakutkan tentu saja. Walau terdengar dari mulut Lay sekalipun yang sudah dikenal sering berlebihan dalam menanggapi hal-hal yang ia lihat. Kelompok kecil itu pun bubar, mereka berlari menuju kamar Nuril, diikuti oleh anak-anak yang lain yang tidak berada dalam kelompok tersebut. Tampak berdesakan di pintu kamar Nuril, beberapa berhasil masuk kamar dan yang beberapa lagi di luar karena jelas kamar Nuril yang hanya berukuran 3 kali 4 meter tak mungkin dapat menampung semua orang. Yang di luar tampak melongok-longok di antara sesama penghuni kos-kosan yang berjejalan di pintu kamar. Enam orang berada di dalam kamar termasuk Lay dan Toro. Meraka benar-benar terkejut, tidak tahu apa yang sesungguhnya terjadi.
Di hadapan mereka Nuril tergeletak tampak aneh di atas dipan, dengan kain sarung dan kaos yang setengahnya tergulung sampai ke bagian dada. Tangannya masih mengenggam sesuatu yang sepertinya adalah buah. Ya, buah, buah jambu yang berukuran cukup besar, jambu bangkok!. Wajah Nuril kelihatan aneh, matanya tampak merem melek kadang membelalak. Mulutnya kadang setengah terbuka dengan lidah di julur-julurkan keluar. Nafasnya ngos-ngosan, berbarengan dengan perutnya yang sedikit buncit tampak naik turun seperti balon gas yang sedang dipompa. Jika dipadukan keadaan tersebut dengan bentuk fisik keseluruhan Nuril dengan kulit gelap dan rambut keriting awut-awutan maka akan tampak seperti gelandangan yang baru saja keracunan karena minum jus kemasan yang sudah kadaluwarsa yang ia temukan di tempat sampah depan mini market. Di atas meja belajar kecil samping tempat tidur terlihat berserakan sisa-sisa buah jambu banggkok yang lain dan sebuah cangkir seng bermotif hijau putih yang sudah kosong. Di permukaan meja ada tumpahan-tumpahan air putih.
"Haduhh...astaghfirullaaahhh...haduhhh...astaghfirullaahh...", terdengar suara lirih yang lebih mirip rintihan keluar dari mulut Nuril. Kenapa sebenarnya ini si Nuril?, keracunankah dia atau kesambet danyang yang menjaga pohon jambu bangkok yang ia makan?.
Toro yang berada paling dekat dengan Nuril bersebelahan dengan Lay bertanya pada sosok yang terkulai di hadapannya, "Kenapa kamu Ril?, kenapa kamu?, kamu masih sadar tho?, masih dengar suaraku tho?"
Yang ditanya terlihat meringis, matanya sebentar terpejam, dengan lirih ia menjawab,"Masih mas....haduhhhh..ampuun".
Toro dan Lay maju serentak, membetulkan posisi tubuh Nuril agar setengah duduk bersandar di bantal yang diletakkan setengah berdiri di sandaran dipan. Lay mengambil buku dari rak buku, kemudian mengibas-kibaskan ke wajah Nuril agar tidak sumpek.
"Tolong ambilkan minyak angin di kamarku, di rak obat sebelah cermin, cepat!", Toro menyuruh anak yang berada di luar kamar untuk mengambil minyak angin di kamarnya. Tak beberapa lama setelah mendapatkan minyak angin yang diminta, Toro mengoleskan minyak angin ke bagian dada dan perut Nuril.
Wajah Nuril sudah terlihat sedikit demi sedikit normal kembali, meskipun ia masih nampak kesusahan untuk bernafas. Tapi bila diamati wajah Nuril yang "sekarat" tadi dengan yang normal sebenarnya tidak begitu jauh berbeda. Karena wajah Nuril memang selalu terlihat seperti orang meringis menahan atau mendorong sesuatu. Seperti wajah orang di pagi hari ketika di toilet. Garis mulut yang lumayan lebar, bibir yang lumayan tebal dan garis alis mata yang seperti orang yang sedang heran.
Setelah keadaan benar-benar kembali normal, Nurilpun akhirnya menceritakan ikhwal apa yang sebenarnya ia alami. Pada kultum subuh tadi pagi di masjid kampung tempat kos-kosan itu berdiri, ia mendengarkan ceramah yang membahas kebiasaan Rasulallah ketika berbuka. Di kultum subuh tadi dikatakan bahwa kebiasaan Rasulallah ketika berbuka adalah dengan tiga buah kurma dan segelas air putih. Sebagaimana diketahui bahwa buah yang paling digemari oleh Rasulallah adalah buah kurma. Setelah mendengar itu, Nuril pun ingin pula mendapat pahala sunnah dengan meniru apa yang Rasulallah lakukan. Tetapi seperti juga kebiasaan ibadah qurban di jaman Rasulallah yaitu dengan hewan qurban berupa unta, namun di Indonesia boleh digantikan dengan sapi atau lembu, karena habitat hewan ternak di Indonesia adalah 2 hewan tadi, bukannya onta seperti di jazirah arab. Maka Nurilpun mereka-reka sendiri soal bab berbuka puasa tadi, dia akan melakukan buka hari itu dengan hidangan layaknya Rasulallah. Tetapi dikarenakan uang kiriman belum datang dan harga kurma lumayan mahal, maka ia memutuskan menggantinya dengan buah yang lain, yang mudah ditemui, layaknya lembu dan sapi pada ibadah qurban. Dan buah pengganti kurma itu adalah jambu bangkok, selain dia sangat sukai juga mudah didapat karena tinggal memetik di halaman belakang rumah ibu kos, yang memang di persilahkan oleh ibu kos untuk memetik bagi semua penghuni kos-kosan. Dan karena buah kurma yang disantap Rasulallah adalah tiga biji, maka ia pun memetik tiga biji buah jambu bangkok. Tiga buah jambu bangkok yang besarnya hampir sepertiga buah kelapa itu ia bersihkan dengan air kran dan dibawanya ke kamar. Setelah adzan maghrib terdengar sebagai tanda waktu berbuka maka Nuril pun menyegerakan untuk berbuka dengan mengawalinya meminum 3 teguk air, dilanjutkan dengan menyantap buah jambu bangkok yang sudah dipetiknya tadi siang. Dan kejadian selanjutnya pasti sudah dapat ditebak, dia tersedak-sedak, perutnya kuwalahan menampung buah-buah jambu bangkok yang besarnya hampir sepertiga buah kelapa dalam waktu bersamaan. Sampai akhirnya jambu bangkok yang terakhir tidak sanggup lagi ia habiskan, Nurilpun kewalahan, perutnya langsung membesar dan diapun terkapar di atas dipan. Huwarakadah...Nuriiil..Nuriiil.

Kesimpulan
Aturan-aturan dalam Islam itu mudah, karena Allah tidak ingin memberatkan umatNya dalam beribadah kepadaNya. Namun jangan sekali-kali menganggap mudah bahkan meremehkan akan aturan Islam, karena bila tidak mengetahui duduk persoalan dan tata cara yang benar maka yang ada hanya akan membuat celaka, di dunia atau bahkan di akhirat. Na'uzdubillahi min dzaliq.

Cerita di atas terinspirasi dari ceramah K.H. Zainuddin MZ

Senin, 01 September 2008

Tahajjud




Prolog
Kita semua ingin kemudahan. Kita semua ingin ketenangan hidup. Berdo'alah sebelum matahari sepenggalahan, melangkahlah menyisiri jembatan-jembatan rizki. Bangunlah di sepertiga malam dan berzikirlah. Setelah semua kita tunaikan, maka ikhlaskanlah. Karena Sang Pemilik Surga telah tersenyum.

Tahajjud
oleh Tazz27

Terbangun ia mengalahkan sang penggugah pagi
Dibasuhnya dengan sucinya air maknawi
Selembar sajaddah lawas ia gelar
Dan khusuk ia bercengkrama dengan Sang Pemilik Semesta

Bersimpuh, ruku' dan tegak berdiri
Seperti putaran kehidupan yang terakhir ditutup salam
Dari ujung kelopak tampak seperti embun
Dan menangislah ia sebelum fajar

Istana kecilnya laksana bersinar
Dari atas langit tampak bak kelompok kunang-kunang
Selaksa bintang-gemintang yang berebut mencuri hati
Bagai mercusuar pasukan malaikat sepertiga malam

"Lihat-lihat itu, dia mahlukKu yang terhormat"
"Lihat-lihat itu, dia mahlukKu yang bisa melebihi kepatuhanmu"
"Lihat-lihat itu, dia mahlukKu yang membuang buaian mimpi"
"Lihat-lihat itu, dai mahlukKu yang sebenarnya mengakui ketuhananKU"
Gema Sang Khaliq pada seantero malaikat yang bertasbikh

Penjaga surga telah siap menyambutnya
Satu kamar istimewa ia tata untuk si pesujud malam
Aral melintang dunia sekoyong-sekoyong tumbang
Seperti diatas permadani terbang ia melenggang

Akhh....tidak kah kita rindu..?
Rindu pada suara lirih dari pita suara yang serak oleh tangisan
Rindu melepaskan berton-ton baja kekalutan di atas pundak
Rindu termuliakan di kala siang, hingga jingga menjemput malam

Harum wangi bau tanah kuburmu
Malaikat pembawa godam menyalakan pelita dalam hangat tidur panjangmu
Berubah mereka menjadi mahluk penuh cinta
Membiarkan lelapmu sampai sangkakala membahana