
Tragedi Jambu Bangkok
Seperti biasa suasana malam sehabis berbuka di kos-kosan E1 tampak riuh. Kos-kosan putra dengan 18 kamar dan berpenghini sekitar 30an mahasiswa, sebuah lingkungan kos yang lumayan besar. Dengan bentuk kotak seperti sebuah benteng lengkap dengan gerbangnya, di tengah-tengah halaman yang cukup lebar kalau hanya buat sebuah lapangan badminton. Setelah berbuka dan sholat maghrib sambil menunggu menunggu isya', penghuni kos yang masih tersisa karena sebagian sudah pulang ke daerah masing-masing di hari ke 22 ramadhan di tahun tersebut, mereka bersantai membiarkan usus di dalam perut memproses makanan berbuka yang sebagian besar berupa nasi bungkus. Beberapa ada yang merokok sambil ngobrol, beberapa lagi ada yang menghabiskan teh sambil mendengarkan siaran radio favorit. Dua atau tiga anak tampak sibuk di tempat cucian membersihkan ajang bekas makanan. Di beberapa kamar terdengar pula alunan ayat-ayat suci yang dibaca beberapa diantaranya masih setengah terbata-bata. Azdan isya' masih sekitar 20 menit lagi, sesekali terdengar tawa dari obrolan kelompok kecil di tengah halaman yang sengaja ditempatkan 2 buah bangku panjang yang saling berhadap-hadapan sebagai tempat mengobrol.
Tetapi ada yang aneh pada malam itu, ya aneh, karena salah satu kamar di bagian depan dekat pintu gerbang masih tampak sedikit terbuka pintunya. Kamar Nuril, mahasiswa angkatan anyar yang berasal dari suatu daerah di Kalimantan. Biasanya setiap kamar akan selalu terbuka pintunya kecuali jika penghuninya sedang malaksanakan sholat atau tidur. Tapi kali ini tidak pada kamar si Nuril, padahal maghrib sudah berlalu lebih dari seperempat jam yang lalu, mungkinkan dia masih tertidur? Kelompok kecil di tangah lapangan merasa heran, dan mulai saling bertanya, kemana si Nuril atau masih tertidurkah Nuril. Karena sekitar jam 5-an tadi memang Nuril sempat bicara pada salah satu diantara mereka, bahwa ia mau istirahat sambil tiduran karena seharian tadi kegiatan kampus cukup melelahkan.
"Hai Lay...coba kamu lihat, tuh Nuril apa ketiduran?, kasihan wong waktu buka udah dari tadi!", Toro salah satu dari kelompok kecil di tangah halaman berteriak menyuruh Lay, mahasiswa baru dari Medan yang kamarnya bersebelahan dengan Nuril, untuk melihat keadaan Nuril.
Lay yang nampak sedang manggut-manggut mendengarkan lagu dari radio beranjak dari duduknya di depan kamar sambil berkata, "Oke bang..", dengan logat bataknya yang kental.
Beberapa saat setelah Lay masuk kamar Nuril, tiba-tiba terdengar dia berteriak dan memanggil Toro,"Alaah Maak....apa pula ini, bang Toro kemari kau...lihat ini, Nuril sekarat!".
Sontak kelompok kecil di tengah halaman kaget, "sekarat!", sebuah kata yang menakutkan tentu saja. Walau terdengar dari mulut Lay sekalipun yang sudah dikenal sering berlebihan dalam menanggapi hal-hal yang ia lihat. Kelompok kecil itu pun bubar, mereka berlari menuju kamar Nuril, diikuti oleh anak-anak yang lain yang tidak berada dalam kelompok tersebut. Tampak berdesakan di pintu kamar Nuril, beberapa berhasil masuk kamar dan yang beberapa lagi di luar karena jelas kamar Nuril yang hanya berukuran 3 kali 4 meter tak mungkin dapat menampung semua orang. Yang di luar tampak melongok-longok di antara sesama penghuni kos-kosan yang berjejalan di pintu kamar. Enam orang berada di dalam kamar termasuk Lay dan Toro. Meraka benar-benar terkejut, tidak tahu apa yang sesungguhnya terjadi.
Di hadapan mereka Nuril tergeletak tampak aneh di atas dipan, dengan kain sarung dan kaos yang setengahnya tergulung sampai ke bagian dada. Tangannya masih mengenggam sesuatu yang sepertinya adalah buah. Ya, buah, buah jambu yang berukuran cukup besar, jambu bangkok!. Wajah Nuril kelihatan aneh, matanya tampak merem melek kadang membelalak. Mulutnya kadang setengah terbuka dengan lidah di julur-julurkan keluar. Nafasnya ngos-ngosan, berbarengan dengan perutnya yang sedikit buncit tampak naik turun seperti balon gas yang sedang dipompa. Jika dipadukan keadaan tersebut dengan bentuk fisik keseluruhan Nuril dengan kulit gelap dan rambut keriting awut-awutan maka akan tampak seperti gelandangan yang baru saja keracunan karena minum jus kemasan yang sudah kadaluwarsa yang ia temukan di tempat sampah depan mini market. Di atas meja belajar kecil samping tempat tidur terlihat berserakan sisa-sisa buah jambu banggkok yang lain dan sebuah cangkir seng bermotif hijau putih yang sudah kosong. Di permukaan meja ada tumpahan-tumpahan air putih.
"Haduhh...astaghfirullaaahhh...haduhhh...astaghfirullaahh...", terdengar suara lirih yang lebih mirip rintihan keluar dari mulut Nuril. Kenapa sebenarnya ini si Nuril?, keracunankah dia atau kesambet danyang yang menjaga pohon jambu bangkok yang ia makan?.
Toro yang berada paling dekat dengan Nuril bersebelahan dengan Lay bertanya pada sosok yang terkulai di hadapannya, "Kenapa kamu Ril?, kenapa kamu?, kamu masih sadar tho?, masih dengar suaraku tho?"
Yang ditanya terlihat meringis, matanya sebentar terpejam, dengan lirih ia menjawab,"Masih mas....haduhhhh..ampuun".
Toro dan Lay maju serentak, membetulkan posisi tubuh Nuril agar setengah duduk bersandar di bantal yang diletakkan setengah berdiri di sandaran dipan. Lay mengambil buku dari rak buku, kemudian mengibas-kibaskan ke wajah Nuril agar tidak sumpek.
"Tolong ambilkan minyak angin di kamarku, di rak obat sebelah cermin, cepat!", Toro menyuruh anak yang berada di luar kamar untuk mengambil minyak angin di kamarnya. Tak beberapa lama setelah mendapatkan minyak angin yang diminta, Toro mengoleskan minyak angin ke bagian dada dan perut Nuril.
Wajah Nuril sudah terlihat sedikit demi sedikit normal kembali, meskipun ia masih nampak kesusahan untuk bernafas. Tapi bila diamati wajah Nuril yang "sekarat" tadi dengan yang normal sebenarnya tidak begitu jauh berbeda. Karena wajah Nuril memang selalu terlihat seperti orang meringis menahan atau mendorong sesuatu. Seperti wajah orang di pagi hari ketika di toilet. Garis mulut yang lumayan lebar, bibir yang lumayan tebal dan garis alis mata yang seperti orang yang sedang heran.
Setelah keadaan benar-benar kembali normal, Nurilpun akhirnya menceritakan ikhwal apa yang sebenarnya ia alami. Pada kultum subuh tadi pagi di masjid kampung tempat kos-kosan itu berdiri, ia mendengarkan ceramah yang membahas kebiasaan Rasulallah ketika berbuka. Di kultum subuh tadi dikatakan bahwa kebiasaan Rasulallah ketika berbuka adalah dengan tiga buah kurma dan segelas air putih. Sebagaimana diketahui bahwa buah yang paling digemari oleh Rasulallah adalah buah kurma. Setelah mendengar itu, Nuril pun ingin pula mendapat pahala sunnah dengan meniru apa yang Rasulallah lakukan. Tetapi seperti juga kebiasaan ibadah qurban di jaman Rasulallah yaitu dengan hewan qurban berupa unta, namun di Indonesia boleh digantikan dengan sapi atau lembu, karena habitat hewan ternak di Indonesia adalah 2 hewan tadi, bukannya onta seperti di jazirah arab. Maka Nurilpun mereka-reka sendiri soal bab berbuka puasa tadi, dia akan melakukan buka hari itu dengan hidangan layaknya Rasulallah. Tetapi dikarenakan uang kiriman belum datang dan harga kurma lumayan mahal, maka ia memutuskan menggantinya dengan buah yang lain, yang mudah ditemui, layaknya lembu dan sapi pada ibadah qurban. Dan buah pengganti kurma itu adalah jambu bangkok, selain dia sangat sukai juga mudah didapat karena tinggal memetik di halaman belakang rumah ibu kos, yang memang di persilahkan oleh ibu kos untuk memetik bagi semua penghuni kos-kosan. Dan karena buah kurma yang disantap Rasulallah adalah tiga biji, maka ia pun memetik tiga biji buah jambu bangkok. Tiga buah jambu bangkok yang besarnya hampir sepertiga buah kelapa itu ia bersihkan dengan air kran dan dibawanya ke kamar. Setelah adzan maghrib terdengar sebagai tanda waktu berbuka maka Nuril pun menyegerakan untuk berbuka dengan mengawalinya meminum 3 teguk air, dilanjutkan dengan menyantap buah jambu bangkok yang sudah dipetiknya tadi siang. Dan kejadian selanjutnya pasti sudah dapat ditebak, dia tersedak-sedak, perutnya kuwalahan menampung buah-buah jambu bangkok yang besarnya hampir sepertiga buah kelapa dalam waktu bersamaan. Sampai akhirnya jambu bangkok yang terakhir tidak sanggup lagi ia habiskan, Nurilpun kewalahan, perutnya langsung membesar dan diapun terkapar di atas dipan. Huwarakadah...Nuriiil..Nuriiil.
Kesimpulan
Aturan-aturan dalam Islam itu mudah, karena Allah tidak ingin memberatkan umatNya dalam beribadah kepadaNya. Namun jangan sekali-kali menganggap mudah bahkan meremehkan akan aturan Islam, karena bila tidak mengetahui duduk persoalan dan tata cara yang benar maka yang ada hanya akan membuat celaka, di dunia atau bahkan di akhirat. Na'uzdubillahi min dzaliq.
Cerita di atas terinspirasi dari ceramah K.H. Zainuddin MZ


Tidak ada komentar:
Posting Komentar