MEKANISME IDE
bagian 2
bagian 2
Oleh Tazz27
Prolog
Sebagai lanjutan dari tulisan sebelumnya, tentang cerita mengenai ide yang menurut saya sangat menggelitik dan membuat saya berfikir tentang rahasia dari sebuah ide.
4. Pemuda Idaman
Beberapa tahun yang lalu, hasrat dalam diri saya untuk menulis sesuatu begitu menggebu. Entah mengapa waktu itu keinginan menulis begitu besar. Tapi biasanya keinginan tersebut muncul di saat waktu-waktu luang saya sebagai seorang freelancer desainer grafis. Ketika itu saya berkeinginan besar menulis sesuatu yang bisa menjadi inspirasi bagi pembaca tulisan saya nanti. Meskipun saya belum tahu, akan jadi seperti apa tulisan saya nanti, apakah sebuah cerpen atau bahkan sebuah novel. Ide cerita apa yang akan saya tulis juga belum saya temukan, sampai pada akhirnya karena rasa kangen terhadap seorang sahabat yang sudah saya anggap sebagai adik yang sekarang dia tinggal nun jauh diseberang pulau, ide itupun muncul. Saya ingin mengangkat cerita dari kisah hidup sahabat saya tersebut yang saya anggap amat sangat menarik. Sebuah cerita ideal yang mungkin sangat biasa tapi saya yakin dari 1000 pemuda yang bisa kita temukan mungkin hanya 1 atau 2 yang bisa menjalani kehidupan seperi sahabat saya tadi. Sebuah cerita hidup seorang remaja kota besar yang hidup di sebuah perkampungan di antara gang-gang sempit dan jalan tikus yang berbenteng bangunan-bangunan besar. Kisah hidup sosok pemuda yang hidup mendampingi sang ibu tercinta yang begitu ia hormati, yang sudah renta tapi sangat bersahaja dan penuh falsafah hidup seorang muslimah jawa tulen. Seorang pemuda ketika si usia sekolah menengah atas, di antara remaja-remaja lainnya yang bisa berangkat ke sekolah dengan mobil antar jemput, sepeda motor atau angkutan perkotaan, tetapi ia dihadapkan pada satu kenyataan, dia harus pergi dan pulang sekolah dengan berjalan kaki sejauh 8 kilometer setiap hari. Diantara teman-temannya yang ketika waktu istirahat bersantai ria dengan softdrink, makanan ringan bahkan merokok, dia hanya dapat melihat keriangan itu, bahkan dia menjalaninya sembari berpuasa. Benar-benar potret hidup yang amat sangat langka kita jumpai. Belum lagi kisahnya setelah lulus sekolah menengah, sebuah kepastian bahwa ia tak mungkin meneruskan ke jenjang yang lebih tinggi. Tapi keadaan tersebut apakah menyurutkan keinginannya untuk bisa mengenyam manisnya bangku kuliah?, sama sekali tidak. Romantika hidup yang demikian dimana sebagian orang tentu sudah pasrah, tapi bagi sahabat saya penjalanan hidup yang demikian justru semakin menantang, menyulut bara pertahanan hidup yang menimbulkan energi yang meluap-luap seiring ayunan langkah-langkah lebar dari sahabat saya ini. Dia memutuskan untuk bekerja. Dan seperti sudah tertoreh dalam sebuah skenario besar. Bersamaan hasratnya untuk dapat bekerja, dan ketertarikannya pada dunia seni rupa, waktu itu saya bersama seorang teman membuka sebuah usaha jasa advertensi baru. Dan sahabat saya tadi kami rekrut untuk dapat membantu kami sebagai office boy merangkap kurir. Dan seiring perjalan waktu dia belajar cara pengoperasian komputer dan sofware desain grafis hingga pada akhirnya dia bukan lagi sebagai office boy atau kurir tetapi menjadi seorang setter dan tenaga layuout. Selama hampir 2 tahun dia bekerja, upah tiap bulan yang ia terima, ia kumpulkan untuk memenuhi keinginannya menambah ilmu dan lebih mematangkan kemampuan sebagai seorang desainer grafis. Keinginannya untuk mengenyam bangku kuliah pun bisa ia penuhi. Singkat cerita tiga tahun yang penuh ramantika, suka, duka, cinta, keringat, do’a terkadang air mata ia lewati. Dan sahabat saya itu pun mendapatkan apa yang sudah dijanjikan. Di berhasil lulus dengan prestasi sangat memuaskan dan sekarang ia sudah sedikit banyak menikmati manisnya peribahasa berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ketepian. Menjadi seorang desainer grafis yang cukup mapan, di sebuah perusahaan group penerbitan ternama di negeri ini. Namanyapun sudah cukup kondang bagi masyarakat lokal dimana ia tinggal sekarang. Sebuah kisah keberhasilan dari buah kesabaran dan kerja keras yang saya anggap sangat inspiratif untuk di ceritakan. Dalam cerita tersebut memanglah bukan ending kesuksesan yang mungkin bagi kebanyakan orang harus terukur dari berapa banyak ujud materi yang ia miliki, berapa ratus bahkan ribu karyawan yang bekerja di dalam perusahaannya, tetapi sebuah cerita dari sudut pandang lain dari arti kesuksesan itu sendiri. Kesuksesan dari sudut pandang orang-orang yang berpola pikir sederhana, termasuk saya. Dimana keksuksesan itu antara lain adalah, dapat melanggengkan senyuman orang tua yang sangat dikasihi dan di hormati. Mewujudkan keinginan orang tua agar anaknya dapat berprestasi dan meringankan beban hidupnya. Walaupun saya amat sangat yakin masih banyak impian-impian yang ingin diraih oleh sahabat saya tersebut. Yang jelas kisah hidup sahabat saya yang satu ini sangat menggelitik otak kanan saya untuk menuangkannya dalam bentuk tulisan, sebagai sosok pemuda ideal, pemuda idaman setiap orang tua yang berpengharapan pada anak-anak mereka, meski sampai sekarang tulisan saya tersebut belum juga terselesaikan.
Selang beberapa tahun kemudian, sekitar 4 tahun dari terlintasnya ide saya untuk menulis kisah sahabat saya tersebut. Alhamdulillah saya dapat melakukan komunikasi lebih mudah dengan sahabat saya tersebut melalui media internet. Kami berdua sangat bahagia karena meskipun hanya lewat saling mengirimkan tulisan kata-kata tetapi kami dapat saling memberi kabar selayaknya bertatap muka. (Semoga yang menemukan teknologi-teknologi tersebut mendapat hidayah dan inayah).
Dalam percakan kami berdua, sahabat saya tersebut mengungkapakan betapa ia ingin agar karya-karya karikatur yang telah ia buat selama ini dapat dijadikan bundling buku, yang mungkin dapat untuk menambah referensi para calon ataupun paraktisi karikatur. Dia mengatakan bahwa sebelumnya cerita tentang dirinyapun sudah pernah diangkat, atau dimasukkan dalam penggalan sebuah novel karya teman sekuliahnya dahulu. Huwarakadah, menarik bukan? Satu lagi misteri ide berlaku disini, yaiatu ide saya untuk mengangkat cerita sahabat saya tersebut sama dengan ketertarikan teman dari sahabat saya terhadap kisah hidup sahabat saya tersebut. Dalam hal ini sebelumya saya tidak pernah mengungkapakan pada sahabat saya tersebut bahwa saya ingin mengambil kisahnya menjadi sebuah tulisan. Dan saya pun tidak mengenal teman kuliah dari sahabat saya tersebut. Sekali lagi bagi saya hal itu sangat menarik untuk di kelupas.
5. Beriklan di Perempatan Lampu Merah
Beberapa tahun yang lalu sekitar tahun 94 -95, ketika saya masih menjadi seorang mahasiswa yunior di sebuah Institusi pendidikan seni negeri di Yogyakarta. Sebuah institut yang sangat ternama dan di idamkan oleh setiap calon mahasiswa yang berkeinginan menjadi seniman ternama atau praktisi seni terapan yang handal. Kala itu pada sebuah kesempatan saya sedang berada di tempat kos teman satu jurusan. Di dalam kamar kos teman saya tersebut, yang meskipun ukurannya tak begitu luas, dengan keadaan kamar yang sangat berantakan cenderung kotor. Sesekali apabila ada hembusan angin dari luar masuk kedalam maka akan tercium bau pesing yang berasal dari luar pojok bagian depan kamar teman saya tersebut. Karena di luar pojok bagian depan kamar kos teman saya itulah ia sering membuang hajat kecil sembarangan, dikarenakan ia seorang yang amat sangat penakut, sehingga untuk pergi melangkah ke kamar mandi di lokasi kos-kosan pun ia tidak berani. Meski saya dan beberapa teman saya yang lain sering komplain akan kebiasaan teman kami tersebut, tapi tetap kalah dengan imaginasi horor di dalam kepalanya tentang bayi berwajah orang tua yang muncul dari dalam closet kamar mandi. Tapi yang aneh meskipun dengan keadaan yang demikian kami berdua dan terkadang dengan beberapa teman kami yang lain sangat betah berada di kamar busuk tersebut. Kamar tersebut sebenarnya lebih kami fungsikan sebagai studio atau bahkan basecamp ketimbang kamar tidur. Di situ kami mengerjakan tugas-tugas harian dari dosen, di mana di semester-semester awal tugas-tugas tersebut teramat sangat banyak. Disamping sebagai studio tentu saja kamar tersebut juga sebagai basecamp tempat ngobrol “ngalor-ngidul”, mencemooh teman lain, menghayal bersama bisa tidur dengan mahasiswi tetangga kampus yang seksi yang tadi siang kami lihat atau sekedar bercerita sesuatu yang super jorok, maklumlah kami hidup di komunitas edan sok "nyeniman", dimana berisi orang-orang senewen tapi orang bilang kreatif. Waktu itu kami berbincang tentang mungkin tidak untuk bisa bekerja sembari kuliah untuk menambah uang bulanan yang sering ludes untuk membeli peralatan sebagai pendukung dalam pengerjaan tugas-tugas kuliah. Satu idepun tercetus di kepala dan saya utarakan pada teman saya tersebut. Bahwa karena kita masih mahasiswa yunior, dengan seabrek tugas-tugas kuliah tentu kita tidak bisa bekerja dengan waktu penuh. Bagaimana kalau kita menjual ide-ide saja kepada perusahaan yang membutuhkan inovasi dalam mengkampanyekan produk mereka. Ketika itu saya tercetus ide untuk mengkampanyekan sebuah produk minuman bersoda di perempatan-perempatan lampu merah. Dengan cara membuat stand kecil di atas trotoar di lokasi perempatan. Menempatkan 1 atau dua orang yang memakai kostum figur ataupun sebuah maskot, dengan bentuk boneka besar berupa botol atau kaleng minuman bersoda tersebut, mereka akan menari nari untuk menarik perhatian pengguna jalan ketika lampu lalu lintas menyala merah. Beberapa perempuan muda yang seksi dengan berpayung siap memberikan sample minuman bersoda dingin secara gratis kepada para pengguna jalan. Dan tentu saja kita pasang sound sistem untuk menambah meriah suasana. Selain itu di atas aspal perempatan, kita akan beri gambar logo dari minuman bersoda tersebut dengan ukuran super besar. Masih dalam rangkaian kampanye produk yang sama kita akan minta armada mobil APV yang mengangkut tiap-tiap team perempatan tadi untuk di cat airbrush dengan visualisasi produk-produk tadi dan bila perlu dibuatkan replika botol atau kaleng minuman dengan ukuran raksasa, dan kendaraan tadi kita minta untuk berkeliling kota sebagai iklan berjalan. Sejatinya ide tadi boleh dikatakan ide brilian. Apalagi di tahun tersebut, iklan-iklan luar ruang sedikit banyak mengalami kelesuan sebagai akibat mulai maraknya stasiun-stasiun televisi swasta yang diikuti oleh berbondong-bondongnya perusahaan ingin memasang iklan produknya lewat media televisi. Di samping itu juga karena promosi luar ruang yang ada sangat monoton cenderung membosankan, dan yang paling sering digunakan hanya media baliho. Tetapi karena ide tersebut terungkap dalam sebuah kamar kumuh yang sesekali berbau pesing, tercetus dari seorang belia yang pinternya hanya berkhayal dan diutarakan kepada seorang freakin' horror yang tak kalah bodohnya dengan saya waktu itu, maka yang terjadi ide tetap sebatas hanya ide, dan terlupakan beberapa saat setelah buang air keesokan hari dan terbuang percuma bersama mengalirnya limbah manusia ke saluran pembuangan. Nol besar, ubsolutely useless. Tapi apakah ide-ide tersebut benar-benar terjerembab bersamaan dengan mengalirnya limbah ke pembuangan?.
Kira-kira 3 - 4 tahun setelah obrolan ide yang tak terealisir di tahun 94-95 tersebut. Waktu itu saya sudah merasakan dunia kerja yang sesungguhnya (meskipun tidak seperti yang saya harapkan) sebagai desainer grafis merangkap desain produk pada sebuah perusahaan tas. Pada tahun 98-99 mulai banyak bermunculan mobil-mobil minibus atau mobil-mobil kelas AVP dengan body full airbrush gambar berbagai macam produk. Bukan mobil box atau truk box yang biasanya mendistribusikan produk-produk dari kota ke kota. Tetapi mobil yang kebanyakan inventaris perusahaan kepada karyawan dengan jabatan tertentu, yang oleh perusahaan itu sengaja di cat full body airbrush visialisai produk dari perusahaan itu. Yang memang di fungsikan secara tidak langsung sebagai iklan berjalan, sarana remainding product pada masyarakat. Mulai dari produk kosmetik sampai kartu seluler bahkan radio swasta. Banyak juga perushaan kelas menengah yang bergerak di bidang jasa seperti advertensi atau wedding organizer dimana mobil sang empunya perusahaan di cat full airbrush produk jasa mereka. Benar-benar persis seperti apa yang ada di otak saya di tahun 94-95 hanya bedanya mobil-mobil tersebut tidak memasang suatu replika di atas kap mobilnya. Kemudian ide saya beriklan di perempatan, setelah itu pun mulai bermunculan, walau tidak sama persis. Seperti sebagai contoh orang yang berjalan mondar mandir di perempatan sembari mengantungkan papan tipis di dada dan punggung yang di tautkan dengan tali yang merengkuh pundak. Di kedua papan tersebut di berikan poster besar, yang biasanya promosi suatu perhelatan, apakah itu musik, teater atau pameran lukisan. Sedangkan yang berupa team promosi dengan kostum khusus seperti ide saya dahulu, belum lama ini jug sudah saya temui. Sebuah perusahaan kartu seluler mempromosikan di perempatan. Team promosi tersebut saya lihat terdiri dari lima orang, 4 orang berdandan seperti badut dengan warna2 natural masing-masing menenteng semacam drum. Di apit oleh 4 badut tadi, duduk santai diatas sofa warna cerah mencolok, seorang perempuan cantik dengan masih memakai jubah piyama dengan warna khas produk kartu seluler tersebut yang berwarna cerah pula. Sang perempuan molek tadi duduk santai dengan posisi bersandar setengah merebah dengan kaki di atas sofa sambil terus memegang handphone seperti layaknya seorang yang sedang bercakap-cakap melalui media handphone tersebut. Mulutnya bergerak-gerak seolah sedang menggosip sesekali tersenyum dan tertawa, seolah tak terganggu sedikitpun dengan riuhnya tetabuhan dari badut-badut dan bisingnya lalu lalang lalulintas. Mungkinkah teman kuliah saya dulu yang akhirnya merealisasikan ide-ide saya dulu?, ternyata tidak. Pada tahun 98-99 teman saya itu masih menjalani studinya di institusi lama saya. Dan untuk di ketahui, kami berdua mengambil jurusan seni grafis, fakultas seni murni, jadi bukan jurusan desain grafis seperti profesi saya sekarang. Di tahun-tahun itu pula teman saya masih getol-getolnya mengekpresikan jiwa kesenimanannya lewat media seni grafis kontemporer dan seni lukis. Malahan dia juga mengira bahwa saya telah berhasil merealisasikan ide saya yang dulu pernah saya utarakan kepada teman saya tersebut. Ehm... benar-benar aneh? BERSAMBUNG :-D
Selang beberapa tahun kemudian, sekitar 4 tahun dari terlintasnya ide saya untuk menulis kisah sahabat saya tersebut. Alhamdulillah saya dapat melakukan komunikasi lebih mudah dengan sahabat saya tersebut melalui media internet. Kami berdua sangat bahagia karena meskipun hanya lewat saling mengirimkan tulisan kata-kata tetapi kami dapat saling memberi kabar selayaknya bertatap muka. (Semoga yang menemukan teknologi-teknologi tersebut mendapat hidayah dan inayah).
Dalam percakan kami berdua, sahabat saya tersebut mengungkapakan betapa ia ingin agar karya-karya karikatur yang telah ia buat selama ini dapat dijadikan bundling buku, yang mungkin dapat untuk menambah referensi para calon ataupun paraktisi karikatur. Dia mengatakan bahwa sebelumnya cerita tentang dirinyapun sudah pernah diangkat, atau dimasukkan dalam penggalan sebuah novel karya teman sekuliahnya dahulu. Huwarakadah, menarik bukan? Satu lagi misteri ide berlaku disini, yaiatu ide saya untuk mengangkat cerita sahabat saya tersebut sama dengan ketertarikan teman dari sahabat saya terhadap kisah hidup sahabat saya tersebut. Dalam hal ini sebelumya saya tidak pernah mengungkapakan pada sahabat saya tersebut bahwa saya ingin mengambil kisahnya menjadi sebuah tulisan. Dan saya pun tidak mengenal teman kuliah dari sahabat saya tersebut. Sekali lagi bagi saya hal itu sangat menarik untuk di kelupas.
5. Beriklan di Perempatan Lampu Merah
Beberapa tahun yang lalu sekitar tahun 94 -95, ketika saya masih menjadi seorang mahasiswa yunior di sebuah Institusi pendidikan seni negeri di Yogyakarta. Sebuah institut yang sangat ternama dan di idamkan oleh setiap calon mahasiswa yang berkeinginan menjadi seniman ternama atau praktisi seni terapan yang handal. Kala itu pada sebuah kesempatan saya sedang berada di tempat kos teman satu jurusan. Di dalam kamar kos teman saya tersebut, yang meskipun ukurannya tak begitu luas, dengan keadaan kamar yang sangat berantakan cenderung kotor. Sesekali apabila ada hembusan angin dari luar masuk kedalam maka akan tercium bau pesing yang berasal dari luar pojok bagian depan kamar teman saya tersebut. Karena di luar pojok bagian depan kamar kos teman saya itulah ia sering membuang hajat kecil sembarangan, dikarenakan ia seorang yang amat sangat penakut, sehingga untuk pergi melangkah ke kamar mandi di lokasi kos-kosan pun ia tidak berani. Meski saya dan beberapa teman saya yang lain sering komplain akan kebiasaan teman kami tersebut, tapi tetap kalah dengan imaginasi horor di dalam kepalanya tentang bayi berwajah orang tua yang muncul dari dalam closet kamar mandi. Tapi yang aneh meskipun dengan keadaan yang demikian kami berdua dan terkadang dengan beberapa teman kami yang lain sangat betah berada di kamar busuk tersebut. Kamar tersebut sebenarnya lebih kami fungsikan sebagai studio atau bahkan basecamp ketimbang kamar tidur. Di situ kami mengerjakan tugas-tugas harian dari dosen, di mana di semester-semester awal tugas-tugas tersebut teramat sangat banyak. Disamping sebagai studio tentu saja kamar tersebut juga sebagai basecamp tempat ngobrol “ngalor-ngidul”, mencemooh teman lain, menghayal bersama bisa tidur dengan mahasiswi tetangga kampus yang seksi yang tadi siang kami lihat atau sekedar bercerita sesuatu yang super jorok, maklumlah kami hidup di komunitas edan sok "nyeniman", dimana berisi orang-orang senewen tapi orang bilang kreatif. Waktu itu kami berbincang tentang mungkin tidak untuk bisa bekerja sembari kuliah untuk menambah uang bulanan yang sering ludes untuk membeli peralatan sebagai pendukung dalam pengerjaan tugas-tugas kuliah. Satu idepun tercetus di kepala dan saya utarakan pada teman saya tersebut. Bahwa karena kita masih mahasiswa yunior, dengan seabrek tugas-tugas kuliah tentu kita tidak bisa bekerja dengan waktu penuh. Bagaimana kalau kita menjual ide-ide saja kepada perusahaan yang membutuhkan inovasi dalam mengkampanyekan produk mereka. Ketika itu saya tercetus ide untuk mengkampanyekan sebuah produk minuman bersoda di perempatan-perempatan lampu merah. Dengan cara membuat stand kecil di atas trotoar di lokasi perempatan. Menempatkan 1 atau dua orang yang memakai kostum figur ataupun sebuah maskot, dengan bentuk boneka besar berupa botol atau kaleng minuman bersoda tersebut, mereka akan menari nari untuk menarik perhatian pengguna jalan ketika lampu lalu lintas menyala merah. Beberapa perempuan muda yang seksi dengan berpayung siap memberikan sample minuman bersoda dingin secara gratis kepada para pengguna jalan. Dan tentu saja kita pasang sound sistem untuk menambah meriah suasana. Selain itu di atas aspal perempatan, kita akan beri gambar logo dari minuman bersoda tersebut dengan ukuran super besar. Masih dalam rangkaian kampanye produk yang sama kita akan minta armada mobil APV yang mengangkut tiap-tiap team perempatan tadi untuk di cat airbrush dengan visualisasi produk-produk tadi dan bila perlu dibuatkan replika botol atau kaleng minuman dengan ukuran raksasa, dan kendaraan tadi kita minta untuk berkeliling kota sebagai iklan berjalan. Sejatinya ide tadi boleh dikatakan ide brilian. Apalagi di tahun tersebut, iklan-iklan luar ruang sedikit banyak mengalami kelesuan sebagai akibat mulai maraknya stasiun-stasiun televisi swasta yang diikuti oleh berbondong-bondongnya perusahaan ingin memasang iklan produknya lewat media televisi. Di samping itu juga karena promosi luar ruang yang ada sangat monoton cenderung membosankan, dan yang paling sering digunakan hanya media baliho. Tetapi karena ide tersebut terungkap dalam sebuah kamar kumuh yang sesekali berbau pesing, tercetus dari seorang belia yang pinternya hanya berkhayal dan diutarakan kepada seorang freakin' horror yang tak kalah bodohnya dengan saya waktu itu, maka yang terjadi ide tetap sebatas hanya ide, dan terlupakan beberapa saat setelah buang air keesokan hari dan terbuang percuma bersama mengalirnya limbah manusia ke saluran pembuangan. Nol besar, ubsolutely useless. Tapi apakah ide-ide tersebut benar-benar terjerembab bersamaan dengan mengalirnya limbah ke pembuangan?.
Kira-kira 3 - 4 tahun setelah obrolan ide yang tak terealisir di tahun 94-95 tersebut. Waktu itu saya sudah merasakan dunia kerja yang sesungguhnya (meskipun tidak seperti yang saya harapkan) sebagai desainer grafis merangkap desain produk pada sebuah perusahaan tas. Pada tahun 98-99 mulai banyak bermunculan mobil-mobil minibus atau mobil-mobil kelas AVP dengan body full airbrush gambar berbagai macam produk. Bukan mobil box atau truk box yang biasanya mendistribusikan produk-produk dari kota ke kota. Tetapi mobil yang kebanyakan inventaris perusahaan kepada karyawan dengan jabatan tertentu, yang oleh perusahaan itu sengaja di cat full body airbrush visialisai produk dari perusahaan itu. Yang memang di fungsikan secara tidak langsung sebagai iklan berjalan, sarana remainding product pada masyarakat. Mulai dari produk kosmetik sampai kartu seluler bahkan radio swasta. Banyak juga perushaan kelas menengah yang bergerak di bidang jasa seperti advertensi atau wedding organizer dimana mobil sang empunya perusahaan di cat full airbrush produk jasa mereka. Benar-benar persis seperti apa yang ada di otak saya di tahun 94-95 hanya bedanya mobil-mobil tersebut tidak memasang suatu replika di atas kap mobilnya. Kemudian ide saya beriklan di perempatan, setelah itu pun mulai bermunculan, walau tidak sama persis. Seperti sebagai contoh orang yang berjalan mondar mandir di perempatan sembari mengantungkan papan tipis di dada dan punggung yang di tautkan dengan tali yang merengkuh pundak. Di kedua papan tersebut di berikan poster besar, yang biasanya promosi suatu perhelatan, apakah itu musik, teater atau pameran lukisan. Sedangkan yang berupa team promosi dengan kostum khusus seperti ide saya dahulu, belum lama ini jug sudah saya temui. Sebuah perusahaan kartu seluler mempromosikan di perempatan. Team promosi tersebut saya lihat terdiri dari lima orang, 4 orang berdandan seperti badut dengan warna2 natural masing-masing menenteng semacam drum. Di apit oleh 4 badut tadi, duduk santai diatas sofa warna cerah mencolok, seorang perempuan cantik dengan masih memakai jubah piyama dengan warna khas produk kartu seluler tersebut yang berwarna cerah pula. Sang perempuan molek tadi duduk santai dengan posisi bersandar setengah merebah dengan kaki di atas sofa sambil terus memegang handphone seperti layaknya seorang yang sedang bercakap-cakap melalui media handphone tersebut. Mulutnya bergerak-gerak seolah sedang menggosip sesekali tersenyum dan tertawa, seolah tak terganggu sedikitpun dengan riuhnya tetabuhan dari badut-badut dan bisingnya lalu lalang lalulintas. Mungkinkah teman kuliah saya dulu yang akhirnya merealisasikan ide-ide saya dulu?, ternyata tidak. Pada tahun 98-99 teman saya itu masih menjalani studinya di institusi lama saya. Dan untuk di ketahui, kami berdua mengambil jurusan seni grafis, fakultas seni murni, jadi bukan jurusan desain grafis seperti profesi saya sekarang. Di tahun-tahun itu pula teman saya masih getol-getolnya mengekpresikan jiwa kesenimanannya lewat media seni grafis kontemporer dan seni lukis. Malahan dia juga mengira bahwa saya telah berhasil merealisasikan ide saya yang dulu pernah saya utarakan kepada teman saya tersebut. Ehm... benar-benar aneh? BERSAMBUNG :-D


Tidak ada komentar:
Posting Komentar