Bagian Ke-2
Marhaban Yaa... Ramadhan... Bulan ramadhan 10 hari pertama sudah terlampaui. Kata pak Ustadz, "Sepertiga jalan sudah kita lewati, 10 hari masa dibukanya pintu rahmat Allah selebar-lebarnya bagi siapa saja yang mau memasukinya". Sekarang menapaki 10 hari kedua dalam ramadhan, yang kata pak Ustadz lagi, "10 hari masa dibukanya pintu maghfirah". Seperti tulisan saya di awal ramadhan sebelumnya, bab rindu Ramadhan, di sambungan tulisan (bagian 1 : Agustus ' 08) kali ini pun saya akan coba gambarkan polah tingkah pengejawantahan kerinduan ramadhan yang sering membuat tertawa dalam hati. Tapi sebelumnya saya akan katakan bahwa yang saya tulis ini adalah se-mata-mata apa yang saya rasakan, lihat dan dengar, apabila ada kesinisan dari para pembaca yang budiman saya mohon jangan terlalu dimasukkan ke dalam hati. Silahkan simak beberapa bentuk kerinduan-kerinduan pada bulan Ramadhan di bawah ini,
Kerinduan istri pada Ramadhan
Rindu pada THR yang diterima suami dari tempat kerjanya
Rindu pada paket sembako dari perusahaan suami
Rindu pada SHU yang diterima suami dari koperasi simpan pinjam karyawan
Rindu pada banyaknya potongan harga di toko pakaian
Kerinduan-kerinduan istri pada ramadhan di atas tadi adalah kerinduan dari istri-istri kebanyakan, tidak termasuk di dalamnya istri-istri manajer atau direktur yang hampir pasti tidak akan menemui banyak perbedaan soal pemenuhan kebutuhan dapur antara hari-hari biasa atau hari-hari ramadhan khususnya menjelang idul fitri. Di dalam aktifitas belanja keseharian mereka cukup hanya dengan menggesek sana sini dengan kartu kredit. Ketika ramadhan mereka disibukkan dengan menata berjubel parsel dari kolega sang suami dan mendata parsel-parsel yang juga harus mereka kirim. Tapi apakah kerinduan-kerinduan di atas masih bisa dirasakan oleh istri-istri kebanyakan saat sekarang ini? Jawabannya mungkin sudah jarang. Karena THR atau SHU suami yang diterima, seringkali akan langsung habis untuk melunasi tunggakan hutang atau melunasi iuran pendidikan anak-anak yang mahalnya kian tak masuk akal. Atau juga tidak akan berarti atau bernilai apa-apa karena bahan kebutuhan pokok di pasar harganya akan melangit jika mendekati lebaran.
Rindu pada paket sembako dari perusahaan suami
Rindu pada SHU yang diterima suami dari koperasi simpan pinjam karyawan
Rindu pada banyaknya potongan harga di toko pakaian
Kerinduan-kerinduan istri pada ramadhan di atas tadi adalah kerinduan dari istri-istri kebanyakan, tidak termasuk di dalamnya istri-istri manajer atau direktur yang hampir pasti tidak akan menemui banyak perbedaan soal pemenuhan kebutuhan dapur antara hari-hari biasa atau hari-hari ramadhan khususnya menjelang idul fitri. Di dalam aktifitas belanja keseharian mereka cukup hanya dengan menggesek sana sini dengan kartu kredit. Ketika ramadhan mereka disibukkan dengan menata berjubel parsel dari kolega sang suami dan mendata parsel-parsel yang juga harus mereka kirim. Tapi apakah kerinduan-kerinduan di atas masih bisa dirasakan oleh istri-istri kebanyakan saat sekarang ini? Jawabannya mungkin sudah jarang. Karena THR atau SHU suami yang diterima, seringkali akan langsung habis untuk melunasi tunggakan hutang atau melunasi iuran pendidikan anak-anak yang mahalnya kian tak masuk akal. Atau juga tidak akan berarti atau bernilai apa-apa karena bahan kebutuhan pokok di pasar harganya akan melangit jika mendekati lebaran.
Kerinduan beberapa profesi pada Ramadhan dari sudut pandang minor
Manifestasi kerinduan-kerinduan pada bulan ramadhan dimana mereka justru rindu pada kesempatan menangguk "kemapanan" dan keuntungan materisebesar-besarnya dengan pemanfaatan profesinya secara maksimal tanpa memperhatikan lagi aturan-aturan yang telah ditetapkan dalam islam ataupun dalam norma masyarakat.
Manifestasi kerinduan-kerinduan pada bulan ramadhan dimana mereka justru rindu pada kesempatan menangguk "kemapanan" dan keuntungan materisebesar-besarnya dengan pemanfaatan profesinya secara maksimal tanpa memperhatikan lagi aturan-aturan yang telah ditetapkan dalam islam ataupun dalam norma masyarakat.

Kerinduan juragan sembako pada Ramadhan
Rindu pada menjadi orang paling penting se-kecamatan melebihi bapak camat itu sendiri
Rindu pada meraup keuntungan dari sembako yang sudah dari 2 bulan sebelumnya ia timbun Rindu pada keuntungan yang berlipat-lipat dari penjualan barang yang hampir kadaluwarsa Rindu pada saat enaknya bisa mengutak-utik harga barang dengan sesuka hati
Rindu pada menjadi orang paling penting se-kecamatan melebihi bapak camat itu sendiri
Rindu pada meraup keuntungan dari sembako yang sudah dari 2 bulan sebelumnya ia timbun Rindu pada keuntungan yang berlipat-lipat dari penjualan barang yang hampir kadaluwarsa Rindu pada saat enaknya bisa mengutak-utik harga barang dengan sesuka hati
Kerinduan juragan toko emas pada Ramadhan
Rindu pada pemandangan stok perhiasan di etalase selalu berkurang saban hari karena laris manis diserbu ibu-ibu penggila harga diri
Rindu pada mekanisme pasar perhiasan emas yang edan, menjual dengan harga tinggi membeli dengan harga sangat murah dari konsumen
Rindu pada banyak orang yang terbodohi karena ketidak tahuan soal simpang-siurnya prosentase karat emas pada perhiasan yang akan mereka beli
Rindu pada pemandangan stok perhiasan di etalase selalu berkurang saban hari karena laris manis diserbu ibu-ibu penggila harga diri
Rindu pada mekanisme pasar perhiasan emas yang edan, menjual dengan harga tinggi membeli dengan harga sangat murah dari konsumen
Rindu pada banyak orang yang terbodohi karena ketidak tahuan soal simpang-siurnya prosentase karat emas pada perhiasan yang akan mereka beli
Kerinduan copet pasar, copet angkutan dan copet terminal pada Ramadhan
Rindu pada begitu mudahnya kerja mereka karena banyak sekali masyarakat yang lengah karena tebius oleh aura pasar yang berubah seolah menjadi surga
Rindu pada keadaan betapa manusia seakan berbondong-bondong menyerahkan diri pada mereka
Rindu pada sambutan meriah para lonte-lonte di malam hari ketika ia kunjungi setelah siang tadi berhasil menggasak puluhan dompet dengan isi penuh duit THR
Rindu pada panen raya maksiat tahunan yang justru terjadi pada ramadhan
Rindu pada begitu mudahnya kerja mereka karena banyak sekali masyarakat yang lengah karena tebius oleh aura pasar yang berubah seolah menjadi surga
Rindu pada keadaan betapa manusia seakan berbondong-bondong menyerahkan diri pada mereka
Rindu pada sambutan meriah para lonte-lonte di malam hari ketika ia kunjungi setelah siang tadi berhasil menggasak puluhan dompet dengan isi penuh duit THR
Rindu pada panen raya maksiat tahunan yang justru terjadi pada ramadhan
Kerinduan travel agent pada Ramadhan
Rindu pada wajah memelas dari para penumpang yang laksana pengemis, meminta-minta meski hanya satu kursi agar bisa mudik
Rindu pada keuntungan yang berlipat-lipat dari naiknya harga tiket yang sudah mereka terapkan jauh hari sebelum penetapan tuslah resmi dari pemerintah
Rindu pada keadaan seperti panen karamba, penumpang tidak perlu lagi harus dijemput seperti hari-hari biasa
Rindu pada kata-kata, "Silahkan kalau mau ya harga tiketnya segitu, kalau enggak ya silahkan nggak usah mudik"
Rindu pada wajah memelas dari para penumpang yang laksana pengemis, meminta-minta meski hanya satu kursi agar bisa mudik
Rindu pada keuntungan yang berlipat-lipat dari naiknya harga tiket yang sudah mereka terapkan jauh hari sebelum penetapan tuslah resmi dari pemerintah
Rindu pada keadaan seperti panen karamba, penumpang tidak perlu lagi harus dijemput seperti hari-hari biasa
Rindu pada kata-kata, "Silahkan kalau mau ya harga tiketnya segitu, kalau enggak ya silahkan nggak usah mudik"
Kerinduan manajer pusat perbelanjaan pada Ramadhan
Rindu pada melangitnya keuntungan karena uforia belanja masyarakat menjelang lebaran
Rindu pada melihat kebodohan orang-orang yang datang ke pusat perbelanjaannya, yang seolah-olah ada pembagian sembako gratis
Rindu pada berhasilnya sistem mekanisme obral yang ia buat, sehingga masyarakat yakin bahwa barang-barang yang ada di pusat perbelanjaannya adalah yang paling murah
Rindu pada bonus penjualan yang jumlahnya jauh lebih besar dari para sales promotion yang pekerjaannya jauh lebih melelahkan
Rindu pada melangitnya keuntungan karena uforia belanja masyarakat menjelang lebaran
Rindu pada melihat kebodohan orang-orang yang datang ke pusat perbelanjaannya, yang seolah-olah ada pembagian sembako gratis
Rindu pada berhasilnya sistem mekanisme obral yang ia buat, sehingga masyarakat yakin bahwa barang-barang yang ada di pusat perbelanjaannya adalah yang paling murah
Rindu pada bonus penjualan yang jumlahnya jauh lebih besar dari para sales promotion yang pekerjaannya jauh lebih melelahkan
Kerinduan politisi culas pada Ramadhan
Rindu pada parcel-parcel yang datang tiada henti, kamuflase sogokan dari partisan Rindu pada amplop-amplop ucapan selamat menunaikan ibadah puasa dan selamat lebaran yang di dalamnya juga berisi setumpuk dolar
Rindu pada pesangon tambahan dari kegiatan safari ramadhan
Rindu pada pesangon dari para pengusaha yang mengundangnya pada acara buka bersama
Kerinduan selebreti maruk pada Ramadhan
Rindu pada banjirnya tawaran mengisi paket acara ramadhan di stasiun televisi, yang manfaatnya bagi umat penuh dengan tanda tanya
Rindu pada padatnya jadwal shooting dari mulai dini hari, pagi hari, siang hari sampai malam hari lagi, sehingga untuk dapat menopang energi yang terkuras "terpaksa" mereka harus mensuplai "obat-obatan"
Rindu pada diberitakan dia sebagai selebreti santun dan beriman pada acara infotainment, yang pada dasarnya acara tersebut jauh dari manfaat
Rindu pada banjirnya tawaran mengisi paket acara ramadhan di stasiun televisi, yang manfaatnya bagi umat penuh dengan tanda tanya
Rindu pada padatnya jadwal shooting dari mulai dini hari, pagi hari, siang hari sampai malam hari lagi, sehingga untuk dapat menopang energi yang terkuras "terpaksa" mereka harus mensuplai "obat-obatan"
Rindu pada diberitakan dia sebagai selebreti santun dan beriman pada acara infotainment, yang pada dasarnya acara tersebut jauh dari manfaat
Kerinduan produser rumah produksi pada Ramadhan
Rindu pada rating puncak dari sinetron ramadhan produksinya yang seringkali justru memperdengarkan dan memperlihatkan hal-hal yang tidak sepatutnya
Rindu pada rating puncak dari sinetron ramadhan produksinya yang beberapa bintangnya pada kenyataannya justru berpenampilan dan berperilaku tidak sesuai dengan norma islam
Rindu pada rating dari puncak paket acara ramadahan atau sinetron ramadhan produksinya yang justru ditimpali dengan kuis-kuis yang bernafaskan judi
Rindu pada sinetron produksinya bisa menghasilkan banyak pemasang iklan, yang terkadang materi iklannya membuat gerah para bapak-bapak karyawan pabrik
Rindu pada proses produksi yang memaksa harus stripping, memeras tenaga para kru yang walhasil banyak dari mereka akhirnya tidak berpuasa
Rindu pada rating puncak dari sinetron ramadhan produksinya yang seringkali justru memperdengarkan dan memperlihatkan hal-hal yang tidak sepatutnya
Rindu pada rating puncak dari sinetron ramadhan produksinya yang beberapa bintangnya pada kenyataannya justru berpenampilan dan berperilaku tidak sesuai dengan norma islam
Rindu pada rating dari puncak paket acara ramadahan atau sinetron ramadhan produksinya yang justru ditimpali dengan kuis-kuis yang bernafaskan judi
Rindu pada sinetron produksinya bisa menghasilkan banyak pemasang iklan, yang terkadang materi iklannya membuat gerah para bapak-bapak karyawan pabrik
Rindu pada proses produksi yang memaksa harus stripping, memeras tenaga para kru yang walhasil banyak dari mereka akhirnya tidak berpuasa
Kesimpulan
Betapa sebenarnya di sebagian besar masyarakat kita baik secara orang per orang maupun secara jamak sudah begitu salah kaprah dalam menyambut ataupun mengisi ramadhan. Dengan kegiatan-kegiatan ( kalau tidak mau disebut adat) yang lebih dekat bahkan sudah masuk di dalam area maksiat. Saya sangat yakin masih banyak lagi hal-hal lain sebagai bentuk manifestasi dari "kerinduan pada ramadhan" yang tidak atau belum saya tuliskan di sini. Pertanyaannya adalah bukanlah mengapa atau siapa, tetapi, "Apakah kita akan terus membiarkan hal-hal yang menodai kesucian ramadhan tersebut akan tetap berlanjut ?". Apakah tindakan pemimpin negeri ini, para aparat negara sebagai penjaga republik dan tokoh-tokoh agama terkemuka yang memiliki ribuan bahkan jutaan massa terhadap ikhwal porak-porandanya kaidah akhlaq tersebut?. Bagaimana negeri ini akan mendapatkan rahmat, maghfirah ataupun hidayah dari bulan suci ini ?, apabila nyata-nyata terjadi penyimpangan di depan hidung negeri ini sendiri. Sekali lagi saya tegaskan masih sangat banyak bentuk-bentuk ketidak lurusan dalam menyambut atau mengisi bulan suci ini. Semoga keluarga, teman, kerabat dan sahabat kita tidak masuk dalam golongan manusia-manusia bengkok yang saya tuliskan di atas. Amien Ya Rabbal 'Alamien.
Betapa sebenarnya di sebagian besar masyarakat kita baik secara orang per orang maupun secara jamak sudah begitu salah kaprah dalam menyambut ataupun mengisi ramadhan. Dengan kegiatan-kegiatan ( kalau tidak mau disebut adat) yang lebih dekat bahkan sudah masuk di dalam area maksiat. Saya sangat yakin masih banyak lagi hal-hal lain sebagai bentuk manifestasi dari "kerinduan pada ramadhan" yang tidak atau belum saya tuliskan di sini. Pertanyaannya adalah bukanlah mengapa atau siapa, tetapi, "Apakah kita akan terus membiarkan hal-hal yang menodai kesucian ramadhan tersebut akan tetap berlanjut ?". Apakah tindakan pemimpin negeri ini, para aparat negara sebagai penjaga republik dan tokoh-tokoh agama terkemuka yang memiliki ribuan bahkan jutaan massa terhadap ikhwal porak-porandanya kaidah akhlaq tersebut?. Bagaimana negeri ini akan mendapatkan rahmat, maghfirah ataupun hidayah dari bulan suci ini ?, apabila nyata-nyata terjadi penyimpangan di depan hidung negeri ini sendiri. Sekali lagi saya tegaskan masih sangat banyak bentuk-bentuk ketidak lurusan dalam menyambut atau mengisi bulan suci ini. Semoga keluarga, teman, kerabat dan sahabat kita tidak masuk dalam golongan manusia-manusia bengkok yang saya tuliskan di atas. Amien Ya Rabbal 'Alamien.


