Kemarin malam saya melihat acara news dari beberapa stasiun tv swasta dengan salah satu berita hangatnya "Demo Para Calon Haji 2008". Pada awal saya melihat dan memperhatikan kilasan berita ini adalah, seperti umumnya penikmat berita sayapun bertanya, "Ada apalagi ini, koq para calon haji dan hajjah ("orang-orang yang sudah masuk dalam katagori mapan") dengan pakaian serba putih rela berpanas-panas di bawah terik dan diatas aspal yang menyimpan serta menghantarkan panas pula?". Malam itu sembari menikmati secangkir susu jahe panas yang disediakan oleh istri saya tercinta sebelum ia berangkat tidur, saya memilih salah satu stasiun tv untuk mengikuti berita-berita yang disampaikan oleh pembawa berita yang cantik rupawan dan bersuara merdu, berat, khas karakter pembaca berita pada umumnya. Dan akhirnya berita haji yang saya tunggupun dibacakan. Diberitai eh maaf diberitakan, bahwa di salah satu kota di jawa barat. Sekelompok calon haji, puluhan jumlahnya, melakukan demontrasi di depan kantor salah satu departemen yang menangani perihal pemberangkatan haji. Kelompok demonstran tersebut adalah mereka-mereka yang sudah di daftar dan direncanakan keberangkatannya ke tanah suci tapi batal di tahun 2008 ini. Hal dikarenakan adanya kebijakan undang-undang baru dari panitia haji pemerintah pusat, yang salah satu pasalnya kurang lebih berbunyi demikian "Dalam Setiap 1000 jiwa penduduk hanya 1 orang yang bisa diberangkatkan ke tanah suci". Sebelumnya saya mohon maaf apabila dalam kutipan yang saya ingat tersebut salah. Tetapi disini saya tidak akan mencoba mengulas ataupun membahas tentang keputusan atau kebijakan-kebijakan pemerintah tersebut yang seperti telah sering kita ketahui dari dulu kepengurusan haji di negeri ini belum pernah 100 persen bagus tiap tahunnya. Masih dalam rangkaian berita pembatalan calon jemaah haji, stasiun tv tersebut membuka telepon interaktif. Dan di situ ada seorang penelepon dan dia salah seorang dari banyaknya calon haji yang dibatalkan. Dia mengutarakan akan ketidak puasannya terhadap pemerintah atas pembatalan pemberangkatan hajinya. Dia bercerita bagaimana dia sudah dalam setahun ini menabung untuk memenuhi cita-citanya berkunjung ke Baitullah memenuhi panggilan iman, mempersiapkan cuti dan sebagainya. Dia merasa malu apabila ternyata tahun ini ternyata dia batal berangkat ke tanah suci karena dia sudah memberitahukan kabar gembira kepada kerabat, teman dan sahabat bahwa tahun ini ia akan berangkat menunaikan ibadah haji.
Nah, dalam tulisan saya ini (yang lebih saya titik beratkan untuk para calon haji), ingin saya ulas dari sudut pandang saya yang sangat sederhana sehingga apabila banyak kekurangan maka mohon dima'afkan.
Kisah Teladan
Saya teringat sebuah kisah yang pernah saya baca dari sebuah buku motivasi keimanan dan mungkin para calon haji sudah banyak yang mengetahui kisah ini. Di kisahkan ada seorang tukang sepatu di sebuah kota negara Iran. Dia seorang muslim yang taat, cinta kepada Alloh dan para Rasulnya. Disebabkan hal itu pulalah dia amat sangat berkeinginan untuk bisa melaksanakan ibadah haji berkunjung ke rumah Sang Maha Mencintai dan yang dicintai. Sekeping-keping demi sekeping ia sisihkan uang dari hasil kerjanya sebagai seorang tukang sepatu. Bertahun-tahun ia kumpulkan. Tak mengenal lelah si tukang sepatu terus dan terus bekerja, membuat pesanan sepatu atau sekedar mereparasi sepatu pelanggan yang sudah usang. Dikisahkan dalam buku tersebut kalau saya tidak salah ingat sampai hampir 40 tahun si tukang sepatu mengumpulkan kepingan-kepingan uang sebagai modal untuk membeli beberapa ekor onta dan perbekalana selama perjalannya ke kota suci. Akhirnya hari yang telah diimpikanpun tiba. Dia telah membeli 2 ekor onta, yang seekor untuk menjadi tunggangan dan mengangkut beberapa bekal, yang seekor lagi khusus membawa perbekalan, seperti baju serta bahan makanan. Tidak lupa dia juga membawa uang untuk membeli bekal lagi di kota-kota yang akan ia lewati apabila bekalnya telah menipis dan juga untuk membeli hewan qurban. Hati sang tukang sepatu begitu bahagia saat itu. Seolah-olah bangunan kotak hitam besar itu sudah bisa ia saksikan di depan matanya. Ka'bah, seakan sudah dapat ia menciumnya. Dan berangkatlah ia, dengan menunggang onta diikuti oleh onta pembawa bekal dibelakangnya yang dikait dengan seutas tali. Wajahnya menampakkan girang yang sangat. Serasa naik permadani terbang ia menyongsong Baitulloh. Gambaran wajah-wajah para jemaah haji yang berkelilig melakukan Thowaf. Bayangan dirinya dapat bertemu saudara sesama muslim dari seluruh dunia. Selangkah dua langkah dan diapun meninggalkan kota kelahirannya. Setelah beberapa hari perjalannya jarak kota sucipun semakin dekat, sampilah ia di pinggiran sebuah kota. Dia berencana membeli perbekalan lagi, dan dia pun mencari pasar di kota itu. Setelah bertanya pada seorang penduduk di kota tersebut, ia pun menuju pasar yang telah ditunjukkan. Tetapi sebelum dia mencapai pasar, sekonyong-konyong dia melihat di pinggiran pasar tersebut. Seorang perempuan sedang memungut bangkai seekor unggas sambil tergopoh-gopoh. Wajah perempuan tersebut tampak pucat, dengan pakaian lusuh penuh jahitan tambalan disana sini agar tetap bisa menutupi aurotnya dengan rapat sebagai seorang perempuan. Si tukang sepatu merasa penasaran, apa sebenarnya yang di lakukan oleh perempuan tersebut, niatnya untuk ke pasar membeli perbekalanpun ia tunda. Ia memilih untuk mengikuti perempuan yang tergopoh tadi. Si tukang sepatu tambah terkejut, ketika ia melihat perempuan tadi berhenti di buah sumur. Perempuan tadi menyembelih bangkai unggas tadi dan mengulitinya selanjutnya memotong-motong daging bangkai unggas tersebut dalam ukuran kecil.
"Astaghfirullah", si tukang sepatu bergumam. Apa sebenarnya yang sedang dilakukan oleh perempuan yang sedang diamatinya ini? Mungkinkah ia akan menjual daging haram tersebut? Apabila memang demikian maka si tukang sepatu pun harus segera mencegahnya. Si tukang sepatu mendekati perempuan tadi dengan sedikit tergesa.
"Assalamualaikum", salam si tukang sepatu kepada si perempuan. Si Perempuan tampak kaget, karena ia tidak mengetahui kedatangan seseorang dari belakang punggungnya.
"Wa alaikum salam wa rahmatullahi wa rakatuh", Si perempuan menjawab sambil membalikkan tubuhnya ke arah datangnya salam. Sekelibat perempuan itu memperhatikan seseorang yang ada di hadapannya, kemudian menundukkan kepala sambil menutupi bagian wajahnya dengan kerudung lusuh yang menutupi kepala.
" Wahai adinda, mohon di ma'afkan seseorang yang renta ini, sekiranya mengagetkan dan mengganggu adinda", Si tukang sepatu membuka pembicaraan.
" Aku telah mengikuti semenjak dari pinggiran pasar tadi, dan aku telah tau apa yang engkau sedang kerjakan ini. Yang aku tidak tahu, akan engkau apakan daging-daging haram tersebut?", Si tukang sepatu bertanya dengan nada sangat lembut.
Si perempuan tampak kikuk, wajah di balik kain yang ia tutupkan dengan tangan kanannya memerah. Bingung dari mana ia harus memulai menjawab.
" Saya tahu wahai orang tua, tentang hukum daging yang sedang aku potong ini, sebenar-benarnya saya tahu akan mana yang hak dan yang bathil. Karena sesungguhnya saya masih dalam keturunan cucu Hasan cucu Rasulallah Salallahu Alaihi Wassalam". Si perempuan menjawab dengan nada bergetar. Suaranya seperti seseorang yang sudah berhari-hari tidak makan. Si tukang sepatu terperanjat, kaget. Subkhanallah, ia bertemu salah seorang anak cucu dari orang yang amat dicintai dan dirindui, Rasulallah Muhammad Salallahu Alaihi Wassalam, tetapi dalam keadaan yang demikian.
"Apabila engkau tahu akan itu, kenapa daging haram itu engkau perlakukan selayaknya daging halal?', Si tukang sepatu bertanya lagi.
" Sesungguhnya yang haram itu adalah halal bagimu apabila dalam keadaan terpaksa, sesungguhnya sudah hampir seminggu anak-anak saya tidak makan, dan sayapun sudah mencoba berusaha dengan keras mencari yang halal, tapi apakah yang bisa dilakukan oleh saya, seorang perempuan janda yang harus teguh menjaga kehormatan?, untuk itulah saya memungut bangkai ini dan memperlakukannya selayaknya daging halal, demi untuk bertahan hidup anak-anak saya dan akan saya katakan bahwa daging ini hadiah dari seseorang budiman", Si perempuan memberikan jawaban alasan akan tindakannya.
" Astaghfirullah hal 'azdim", Si orang tua berkata sambil mengelus dada. Kakinya terasa lemas, lututnya pun sedikit gemetar. Dalam sesaat dia hanya bisa terdiam. Dalam hatinya berkecamuk, Ya Allah kenapa seorang anak cucu kekasihMu tercinta Engkau berikan cobaan yang demikian hebat?, tak beberapa di sudut matanya dengan kelopak yang sudah berkeriput tampak setitik kilatan, pantulan sinar matahari dari air mata yang keluar.
" Betapa hanjur hati begitu mendengar cerita mu wahai adinda, dan betapa berdosanya saya apabila tidak melakukan sesuatu untuk menolongmu". Si tukang sepatu berkata dengan nada serak.
" Ketahuilah bahwa saya sesungguhnya dalam perjalanan ke tanah suci untuk melakukan ibadah haji. Saya membawa 2 ekor unta dan perbekalan serta uang yang mungkin tak begitu seberapa jumlahnya. Namun adinda, ambilah onta saya yang seekor beserta bekal yang ada di atas punggungnya dan ambil pulalah uang yang aku bawa ini. Perbuatlah seuatu dengan uang itu di kemudian hari, agar engkau terhindar dari kefakiran. Dan penuhilah kebutuhanmu dan anak-anakmu hari ini dengan perbekalan yang aku berikan, demi Alloh saya ikhlas", Si tukang sepatu berkata sambil menjulurkan tali ikatan onta dan memberikan sebagian besar uang yang ia miliki. Si perempuan tampak senang bukan kepalang, dia bersyukur kepada Alloh, dan tak henti-hentinya berucap terima kasih kepada si tukang sepatu. Setelah itu ia berlari kecil sambil menarik onta pemberian, tak sabar untuk memberi kabar gembira kepada anak-anaknya yang kelaparan.
Sang tukang sepatu akhirnya berbalik arah, ia kembali ke arah ia berangkat, pulang. Dia sama sekali tidak bersedih dan kecewa karena keinginan yang telah di pendam sekian lama, tidak bisa ia wujudkan. Tetapi ia justru bersyukur, karena apa yang ia kumpulkan selama ini ternyata bisa membawa manfaat pada orang lain yang jauh lebih membutuhkan dan bukankah pahala itu telah terhitung sejak kita berniat melakukan suatu kebajikan. Dirinya pun bertekad akan mengumpulkan kepingan-kepingan uang lagi walaupun ia tahu usianya tak memungkinkan bila harus menunggu 40 tahun lagi. Tapi bukankah Allah maha berkehendak?, bila Ia menghendaki niscaya tidak ada sesuatu yang mustahil.
Beberapa minggu setelah si tukang sepatu kembali ke rumah, saat para ibadah haji pulang pun tiba. Ia memutuskan untuk bertandang ke salah seorang kenalannya yang baru saja pulang dari tanah suci. Ia ingin mendengarkan cerita kenalannya tersebut selama menjalankan ibadah haji. Karena meski hanya mendengar dari orang lain pun ia sudah teramat bahagia. Ketika ia bertemu dengan kenalannya tersebut, setelah saling berucap salam, mereka berpelukan melepas kerinduan.
Betapa terkejutnya ia, karena kenalannya tersebut berkata,"Selamat, selamat, saudara seberangkatan haji, semoga engkau di anugerahi haji mabrur. Di tanah suci engkau tampak lebih tampan dari yang ku lihat sekarang, di sana juga tak kulihat engkau tampak kelelahan". Si tukang sepatu tampak kebingungan dan ia pun hanya mendo'akan semoga Alloh menerima ibadah haji kenalannya tersebut.
Ketika Sang tukang sepatu tersebut sampai di rumah, ia masih heran, kenapa kenalannya bisa berkata kalau ia bertemu dengan dirinya di tanah suci? Di dalam bengkel sepatunya ia masih tak habis fikir.
Tiba-tiba terdengar suara salam dari luar, "Assalamualaikum".
"Wa alaikumsalam warahmatullohi wabarakatuh", si tukang sepatu menjawab sembari berjalan mendekati pintu rumahnya yang sangat sederhana. Setelah ia membukakan pintu maka di lihatnya sosok pemuda gagah nan tampan. Belum pernah seumur hidupnya melihat seseorang yang sedemikian gagah nan tampan seperti yang sekarang ia lihat. Tapi betapa terperanjatnya dia, ketika ia perhatikan dengan lebih seksama, ternyata orang tersebut kedua kakinya tidak menyentuh tanah. Si tukang sepatupun ketakutan, siapakah gerangan atau mahluk apakah yang ada dihadapannya ini? Sang pemuda memegang kedua bahu si tukang sepatu yang sudah nampak sempoyongan dan menuntunnya ke sebuah kursi. Mereka duduk berhadap-hadapan. Si tukang sepatu dapat melihat dengan jelas betapa wajah pemuda seperti bersinar, cerah membuat siapapun yang memandang akan merasa bahagia.
Si pemuda pun mulai membuka pembicaraan," Hai bapak ahli surga, jangan engkau terkejut karena sesungguhnya aku ini seorang malaikat yang di utus oleh Alloh untuk menyampaikan kabar gembira".
Justru tambah terkejut si tukang sepatu ini, karena seseorang di hadapnnya ini menyebut dirinya sebagai seorang malaikat dan memanggil si tukang sepatu sebagi ahli surga.
Si pemuda meneruskan kata-katanya," Tahukah engkau, bahwa aku merubah wujudku menyerupai engkau, dan menggantikanmu di tanah suci melalukan ibadah haji untukmu dengan seijin Alloh, yang tentu saja akan banyak orang yang mengenalmu bertemu dirimu di tanah suci".
Demi mendengar kabar tersebut, bergumul perasaan di hati si tukang sepatu, bahagia, penasaran, heran, takut, bercampur aduk. Jantungnya berdetak kencang, benarkah yang di hadapnnya ini seorang malaikat dan benarkahlah pula berita yang di bawanya?
Dengan mengumpulkan kekuatan, si tukang kayupun berkata dan bertanya," Apabila benar adanya engkau dan berita yang engkau bawa, maka syukur saya haturkan kepada Alloh. Dan perbolehkan aku bertanya, karena enggkau seorang malaikat yang tentu pengetahuanmu lebih luas dari pada saya. Beri tahu saya berapa banyakkah jumlah jemaah haji tahun ini? dan berapa banyakkah yang hajinya di terima di sisi Tuhanku?
Sang pemuda yang ternyata seorang malaikat Alloh sambil tersenyum ia menjawab," Ada 400 ribu orang yang melakukan ibadah haji tahun ini, dan yang di terima ibadahnya di sisi Alloh hanya 40 orang dan dirimu salah satu dari 40 orang itu".
Demi mendengar jawaban tersebut si tukang sepatupun menangis, tangisan bahagia. Karena Alloh telah menjawab do'anya selama ini.
Keesokan harinya si tukang sepatupun tampak berseri. Karena malam tadi dia bermimmpi bertemu Rasulallah dan di dalam mimpinya beliau berterima kasih karena telah menolong salah seorang anak keturunannya, dan berkata bahwa beliau akan menemuinya di surga. Walallahu a'lam bissawab.
Petikan buah pembesar hati
Apabila mengetahui cerita si tukang sepatu diatas dan mencoba merenungi dan memahami. Maka sesungguhnya protes atau demonstrasi dari para calon jemaah haji yang gagal di berangkatkan tahun ini tidak semestinya terjadi. Terlepas dari kebijakan-kebijakan pengambil keputusan dari panitia penyelenggara haji yang tentu saja masih banyak yang harus di benahi di sana sini. Karena bukankah sejak awal ketika calon jemaah haji mulai menabung atau mengumpulkan biaya ibadah haji, dari situ satu pahala sudah di hitung oleh Alloh? Setiap sen dan setiap cucuran keringat demi mengumpulkan sen demi sen tersebut mengalir pahala Alloh. Apalagi apabila kita ketahui, bahwa ibadah haji ini bisa di sebut sebagai puncaknya ibadah. Karena kesiapan yang di butuhkan seorang calon haji teramatlah besar. Selain biaya untuk dirinya, juga biaya yang akan ditinggalkannya. Dan yang paling penting dari kesiapan-kesiapan tadi adalah mental kesabaran. Di tekankan seorang jemaah haji memiliki kesabaran yang sangat besar, demi menghasilkan seorang haji yang mabrur. Seorang haji tanpa ada cerminan kebijakan dan kesabaran dalam dirinya, pantaslah di tanyakan ke-mabrurannya. Kenapa harus pula malu apabila tahun ini keberangkatan kita ke tanah suci harus tertunda?, toh itu bukan kesalahan dan kemauan kita. Kenapa harus di sesali semua persiapan dan rencana yang sudah dilakukan? Bukankah selama itu selalu mengalir pahala Alloh, dan biarlah terus mengalir jangan di hentikan karena ketidak ikhlasan. Saya mencoba memahami betul, betapa besar sudah biaya, tenaga dan fikiran para calon jemaah haji yang tertunda. Apalagi dalam pandangan saya, seseorang yang belum tergolong "mapan", tentu biaya yang sudah dipersiapkan amat sangat besar. Tapi sekali lagi, dengan penuh kerendahan hati. Bagi anda, suami anda, teman atau kerabat anda, atau siapa saja yang tahun ini ke-hajiannya terpaksa tertunda, tolong beritakan kisah si tukang sepatu di atas. Berhajilah dengan kesabaran, dan akhirnya semoga membawa manfa'at. Amien Yaa Robbal 'alamin
Nah, dalam tulisan saya ini (yang lebih saya titik beratkan untuk para calon haji), ingin saya ulas dari sudut pandang saya yang sangat sederhana sehingga apabila banyak kekurangan maka mohon dima'afkan.
Kisah Teladan
Saya teringat sebuah kisah yang pernah saya baca dari sebuah buku motivasi keimanan dan mungkin para calon haji sudah banyak yang mengetahui kisah ini. Di kisahkan ada seorang tukang sepatu di sebuah kota negara Iran. Dia seorang muslim yang taat, cinta kepada Alloh dan para Rasulnya. Disebabkan hal itu pulalah dia amat sangat berkeinginan untuk bisa melaksanakan ibadah haji berkunjung ke rumah Sang Maha Mencintai dan yang dicintai. Sekeping-keping demi sekeping ia sisihkan uang dari hasil kerjanya sebagai seorang tukang sepatu. Bertahun-tahun ia kumpulkan. Tak mengenal lelah si tukang sepatu terus dan terus bekerja, membuat pesanan sepatu atau sekedar mereparasi sepatu pelanggan yang sudah usang. Dikisahkan dalam buku tersebut kalau saya tidak salah ingat sampai hampir 40 tahun si tukang sepatu mengumpulkan kepingan-kepingan uang sebagai modal untuk membeli beberapa ekor onta dan perbekalana selama perjalannya ke kota suci. Akhirnya hari yang telah diimpikanpun tiba. Dia telah membeli 2 ekor onta, yang seekor untuk menjadi tunggangan dan mengangkut beberapa bekal, yang seekor lagi khusus membawa perbekalan, seperti baju serta bahan makanan. Tidak lupa dia juga membawa uang untuk membeli bekal lagi di kota-kota yang akan ia lewati apabila bekalnya telah menipis dan juga untuk membeli hewan qurban. Hati sang tukang sepatu begitu bahagia saat itu. Seolah-olah bangunan kotak hitam besar itu sudah bisa ia saksikan di depan matanya. Ka'bah, seakan sudah dapat ia menciumnya. Dan berangkatlah ia, dengan menunggang onta diikuti oleh onta pembawa bekal dibelakangnya yang dikait dengan seutas tali. Wajahnya menampakkan girang yang sangat. Serasa naik permadani terbang ia menyongsong Baitulloh. Gambaran wajah-wajah para jemaah haji yang berkelilig melakukan Thowaf. Bayangan dirinya dapat bertemu saudara sesama muslim dari seluruh dunia. Selangkah dua langkah dan diapun meninggalkan kota kelahirannya. Setelah beberapa hari perjalannya jarak kota sucipun semakin dekat, sampilah ia di pinggiran sebuah kota. Dia berencana membeli perbekalan lagi, dan dia pun mencari pasar di kota itu. Setelah bertanya pada seorang penduduk di kota tersebut, ia pun menuju pasar yang telah ditunjukkan. Tetapi sebelum dia mencapai pasar, sekonyong-konyong dia melihat di pinggiran pasar tersebut. Seorang perempuan sedang memungut bangkai seekor unggas sambil tergopoh-gopoh. Wajah perempuan tersebut tampak pucat, dengan pakaian lusuh penuh jahitan tambalan disana sini agar tetap bisa menutupi aurotnya dengan rapat sebagai seorang perempuan. Si tukang sepatu merasa penasaran, apa sebenarnya yang di lakukan oleh perempuan tersebut, niatnya untuk ke pasar membeli perbekalanpun ia tunda. Ia memilih untuk mengikuti perempuan yang tergopoh tadi. Si tukang sepatu tambah terkejut, ketika ia melihat perempuan tadi berhenti di buah sumur. Perempuan tadi menyembelih bangkai unggas tadi dan mengulitinya selanjutnya memotong-motong daging bangkai unggas tersebut dalam ukuran kecil.
"Astaghfirullah", si tukang sepatu bergumam. Apa sebenarnya yang sedang dilakukan oleh perempuan yang sedang diamatinya ini? Mungkinkah ia akan menjual daging haram tersebut? Apabila memang demikian maka si tukang sepatu pun harus segera mencegahnya. Si tukang sepatu mendekati perempuan tadi dengan sedikit tergesa.
"Assalamualaikum", salam si tukang sepatu kepada si perempuan. Si Perempuan tampak kaget, karena ia tidak mengetahui kedatangan seseorang dari belakang punggungnya.
"Wa alaikum salam wa rahmatullahi wa rakatuh", Si perempuan menjawab sambil membalikkan tubuhnya ke arah datangnya salam. Sekelibat perempuan itu memperhatikan seseorang yang ada di hadapannya, kemudian menundukkan kepala sambil menutupi bagian wajahnya dengan kerudung lusuh yang menutupi kepala.
" Wahai adinda, mohon di ma'afkan seseorang yang renta ini, sekiranya mengagetkan dan mengganggu adinda", Si tukang sepatu membuka pembicaraan.
" Aku telah mengikuti semenjak dari pinggiran pasar tadi, dan aku telah tau apa yang engkau sedang kerjakan ini. Yang aku tidak tahu, akan engkau apakan daging-daging haram tersebut?", Si tukang sepatu bertanya dengan nada sangat lembut.
Si perempuan tampak kikuk, wajah di balik kain yang ia tutupkan dengan tangan kanannya memerah. Bingung dari mana ia harus memulai menjawab.
" Saya tahu wahai orang tua, tentang hukum daging yang sedang aku potong ini, sebenar-benarnya saya tahu akan mana yang hak dan yang bathil. Karena sesungguhnya saya masih dalam keturunan cucu Hasan cucu Rasulallah Salallahu Alaihi Wassalam". Si perempuan menjawab dengan nada bergetar. Suaranya seperti seseorang yang sudah berhari-hari tidak makan. Si tukang sepatu terperanjat, kaget. Subkhanallah, ia bertemu salah seorang anak cucu dari orang yang amat dicintai dan dirindui, Rasulallah Muhammad Salallahu Alaihi Wassalam, tetapi dalam keadaan yang demikian.
"Apabila engkau tahu akan itu, kenapa daging haram itu engkau perlakukan selayaknya daging halal?', Si tukang sepatu bertanya lagi.
" Sesungguhnya yang haram itu adalah halal bagimu apabila dalam keadaan terpaksa, sesungguhnya sudah hampir seminggu anak-anak saya tidak makan, dan sayapun sudah mencoba berusaha dengan keras mencari yang halal, tapi apakah yang bisa dilakukan oleh saya, seorang perempuan janda yang harus teguh menjaga kehormatan?, untuk itulah saya memungut bangkai ini dan memperlakukannya selayaknya daging halal, demi untuk bertahan hidup anak-anak saya dan akan saya katakan bahwa daging ini hadiah dari seseorang budiman", Si perempuan memberikan jawaban alasan akan tindakannya.
" Astaghfirullah hal 'azdim", Si orang tua berkata sambil mengelus dada. Kakinya terasa lemas, lututnya pun sedikit gemetar. Dalam sesaat dia hanya bisa terdiam. Dalam hatinya berkecamuk, Ya Allah kenapa seorang anak cucu kekasihMu tercinta Engkau berikan cobaan yang demikian hebat?, tak beberapa di sudut matanya dengan kelopak yang sudah berkeriput tampak setitik kilatan, pantulan sinar matahari dari air mata yang keluar.
" Betapa hanjur hati begitu mendengar cerita mu wahai adinda, dan betapa berdosanya saya apabila tidak melakukan sesuatu untuk menolongmu". Si tukang sepatu berkata dengan nada serak.
" Ketahuilah bahwa saya sesungguhnya dalam perjalanan ke tanah suci untuk melakukan ibadah haji. Saya membawa 2 ekor unta dan perbekalan serta uang yang mungkin tak begitu seberapa jumlahnya. Namun adinda, ambilah onta saya yang seekor beserta bekal yang ada di atas punggungnya dan ambil pulalah uang yang aku bawa ini. Perbuatlah seuatu dengan uang itu di kemudian hari, agar engkau terhindar dari kefakiran. Dan penuhilah kebutuhanmu dan anak-anakmu hari ini dengan perbekalan yang aku berikan, demi Alloh saya ikhlas", Si tukang sepatu berkata sambil menjulurkan tali ikatan onta dan memberikan sebagian besar uang yang ia miliki. Si perempuan tampak senang bukan kepalang, dia bersyukur kepada Alloh, dan tak henti-hentinya berucap terima kasih kepada si tukang sepatu. Setelah itu ia berlari kecil sambil menarik onta pemberian, tak sabar untuk memberi kabar gembira kepada anak-anaknya yang kelaparan.
Sang tukang sepatu akhirnya berbalik arah, ia kembali ke arah ia berangkat, pulang. Dia sama sekali tidak bersedih dan kecewa karena keinginan yang telah di pendam sekian lama, tidak bisa ia wujudkan. Tetapi ia justru bersyukur, karena apa yang ia kumpulkan selama ini ternyata bisa membawa manfaat pada orang lain yang jauh lebih membutuhkan dan bukankah pahala itu telah terhitung sejak kita berniat melakukan suatu kebajikan. Dirinya pun bertekad akan mengumpulkan kepingan-kepingan uang lagi walaupun ia tahu usianya tak memungkinkan bila harus menunggu 40 tahun lagi. Tapi bukankah Allah maha berkehendak?, bila Ia menghendaki niscaya tidak ada sesuatu yang mustahil.
Beberapa minggu setelah si tukang sepatu kembali ke rumah, saat para ibadah haji pulang pun tiba. Ia memutuskan untuk bertandang ke salah seorang kenalannya yang baru saja pulang dari tanah suci. Ia ingin mendengarkan cerita kenalannya tersebut selama menjalankan ibadah haji. Karena meski hanya mendengar dari orang lain pun ia sudah teramat bahagia. Ketika ia bertemu dengan kenalannya tersebut, setelah saling berucap salam, mereka berpelukan melepas kerinduan.
Betapa terkejutnya ia, karena kenalannya tersebut berkata,"Selamat, selamat, saudara seberangkatan haji, semoga engkau di anugerahi haji mabrur. Di tanah suci engkau tampak lebih tampan dari yang ku lihat sekarang, di sana juga tak kulihat engkau tampak kelelahan". Si tukang sepatu tampak kebingungan dan ia pun hanya mendo'akan semoga Alloh menerima ibadah haji kenalannya tersebut.
Ketika Sang tukang sepatu tersebut sampai di rumah, ia masih heran, kenapa kenalannya bisa berkata kalau ia bertemu dengan dirinya di tanah suci? Di dalam bengkel sepatunya ia masih tak habis fikir.
Tiba-tiba terdengar suara salam dari luar, "Assalamualaikum".
"Wa alaikumsalam warahmatullohi wabarakatuh", si tukang sepatu menjawab sembari berjalan mendekati pintu rumahnya yang sangat sederhana. Setelah ia membukakan pintu maka di lihatnya sosok pemuda gagah nan tampan. Belum pernah seumur hidupnya melihat seseorang yang sedemikian gagah nan tampan seperti yang sekarang ia lihat. Tapi betapa terperanjatnya dia, ketika ia perhatikan dengan lebih seksama, ternyata orang tersebut kedua kakinya tidak menyentuh tanah. Si tukang sepatupun ketakutan, siapakah gerangan atau mahluk apakah yang ada dihadapannya ini? Sang pemuda memegang kedua bahu si tukang sepatu yang sudah nampak sempoyongan dan menuntunnya ke sebuah kursi. Mereka duduk berhadap-hadapan. Si tukang sepatu dapat melihat dengan jelas betapa wajah pemuda seperti bersinar, cerah membuat siapapun yang memandang akan merasa bahagia.
Si pemuda pun mulai membuka pembicaraan," Hai bapak ahli surga, jangan engkau terkejut karena sesungguhnya aku ini seorang malaikat yang di utus oleh Alloh untuk menyampaikan kabar gembira".
Justru tambah terkejut si tukang sepatu ini, karena seseorang di hadapnnya ini menyebut dirinya sebagai seorang malaikat dan memanggil si tukang sepatu sebagi ahli surga.
Si pemuda meneruskan kata-katanya," Tahukah engkau, bahwa aku merubah wujudku menyerupai engkau, dan menggantikanmu di tanah suci melalukan ibadah haji untukmu dengan seijin Alloh, yang tentu saja akan banyak orang yang mengenalmu bertemu dirimu di tanah suci".
Demi mendengar kabar tersebut, bergumul perasaan di hati si tukang sepatu, bahagia, penasaran, heran, takut, bercampur aduk. Jantungnya berdetak kencang, benarkah yang di hadapnnya ini seorang malaikat dan benarkahlah pula berita yang di bawanya?
Dengan mengumpulkan kekuatan, si tukang kayupun berkata dan bertanya," Apabila benar adanya engkau dan berita yang engkau bawa, maka syukur saya haturkan kepada Alloh. Dan perbolehkan aku bertanya, karena enggkau seorang malaikat yang tentu pengetahuanmu lebih luas dari pada saya. Beri tahu saya berapa banyakkah jumlah jemaah haji tahun ini? dan berapa banyakkah yang hajinya di terima di sisi Tuhanku?
Sang pemuda yang ternyata seorang malaikat Alloh sambil tersenyum ia menjawab," Ada 400 ribu orang yang melakukan ibadah haji tahun ini, dan yang di terima ibadahnya di sisi Alloh hanya 40 orang dan dirimu salah satu dari 40 orang itu".
Demi mendengar jawaban tersebut si tukang sepatupun menangis, tangisan bahagia. Karena Alloh telah menjawab do'anya selama ini.
Keesokan harinya si tukang sepatupun tampak berseri. Karena malam tadi dia bermimmpi bertemu Rasulallah dan di dalam mimpinya beliau berterima kasih karena telah menolong salah seorang anak keturunannya, dan berkata bahwa beliau akan menemuinya di surga. Walallahu a'lam bissawab.
Petikan buah pembesar hati
Apabila mengetahui cerita si tukang sepatu diatas dan mencoba merenungi dan memahami. Maka sesungguhnya protes atau demonstrasi dari para calon jemaah haji yang gagal di berangkatkan tahun ini tidak semestinya terjadi. Terlepas dari kebijakan-kebijakan pengambil keputusan dari panitia penyelenggara haji yang tentu saja masih banyak yang harus di benahi di sana sini. Karena bukankah sejak awal ketika calon jemaah haji mulai menabung atau mengumpulkan biaya ibadah haji, dari situ satu pahala sudah di hitung oleh Alloh? Setiap sen dan setiap cucuran keringat demi mengumpulkan sen demi sen tersebut mengalir pahala Alloh. Apalagi apabila kita ketahui, bahwa ibadah haji ini bisa di sebut sebagai puncaknya ibadah. Karena kesiapan yang di butuhkan seorang calon haji teramatlah besar. Selain biaya untuk dirinya, juga biaya yang akan ditinggalkannya. Dan yang paling penting dari kesiapan-kesiapan tadi adalah mental kesabaran. Di tekankan seorang jemaah haji memiliki kesabaran yang sangat besar, demi menghasilkan seorang haji yang mabrur. Seorang haji tanpa ada cerminan kebijakan dan kesabaran dalam dirinya, pantaslah di tanyakan ke-mabrurannya. Kenapa harus pula malu apabila tahun ini keberangkatan kita ke tanah suci harus tertunda?, toh itu bukan kesalahan dan kemauan kita. Kenapa harus di sesali semua persiapan dan rencana yang sudah dilakukan? Bukankah selama itu selalu mengalir pahala Alloh, dan biarlah terus mengalir jangan di hentikan karena ketidak ikhlasan. Saya mencoba memahami betul, betapa besar sudah biaya, tenaga dan fikiran para calon jemaah haji yang tertunda. Apalagi dalam pandangan saya, seseorang yang belum tergolong "mapan", tentu biaya yang sudah dipersiapkan amat sangat besar. Tapi sekali lagi, dengan penuh kerendahan hati. Bagi anda, suami anda, teman atau kerabat anda, atau siapa saja yang tahun ini ke-hajiannya terpaksa tertunda, tolong beritakan kisah si tukang sepatu di atas. Berhajilah dengan kesabaran, dan akhirnya semoga membawa manfa'at. Amien Yaa Robbal 'alamin


1 komentar:
Saya tunggu cerita lainnya lagi, kalo bisa ukuran font-nya lebih gede. Soalnya buat yg punya bkat minus kayak saya, lumayan susah ngebacanya
Posting Komentar